Kamis, 21 Juni 2012
SMS Schleswig-Holstein, Kapal Tua Yang Ikut Perang Dunia Ke-2
Tag
ANGKATAN LAUT
Schleswig-Holstein adalah kapal perang Jerman yang bertempur
dalam dua perang dunia. Tembakan dari kapal ini ke pangkalan Polandia di
Westerplatte pada 1 September 1939, dikatakan sebagai tembakan pertama dalam
Perang Dunia II.
Sejarah
Schleswig-Holstein terlibat dalam Perang Dunia I pada
Pertempuran Jutland, dimana kapal ini tertembak satu kali oleh senjata skuadron
tempur Inggris ke-2. Setelah perang, kapal ini adalah satu dari enam kapal
perang tua Jerman yang diijinkan beroperasi. Di akhir proses modifikasi pada
1926, dua cerobong asapnya disatukan, menguranginya dari tiga menjadi dua. Dari
1926 hingga 1935 kapal ini menjadi kapal bendera angkatan laut Jerman. Pada
1936 Schleswig-Holstein diubah menjadi kapal latih.
Perang Dunia II
Pada April 1940, Schleswig-Holstein ambil bagian dalam usaha
pendudukan Denmark, dan kemudian kembali menjadi kapal latih dari 1941 hingga
1944, dan pada September 1944 menjadi kapal anti pesawat terbang. Pada 19
Desember 1944, di Gdynia, kapal ini terhantam oleh tiga bom yang dijatuhkan
pesawat-pesawat Inggris, terbakar dan tenggelam sedalam 12 meter. Kapal kemudian
dihancurkan lebih jauh oleh awaknya pada Maret, 1945. Setelah Perang Dunia II,
kapal ini diangkat oleh Uni Soviet dan ditarik ke Tallinn dan dinamai kembali
sebagai Borodino. Kapal kemudian diletakkan dekat Pulau Osmussaar di Laut
Baltik pada 1948 dan digunakan sebagai kapal sasaran hingga 1960-an. Sisa-sisa
kapal masih ada dan tempat tersebut dilindungi oleh Dewan Warisan Nasional
Estonia sebagai benda bersejarah sejak 2006.
Antonov AN-225 Mriya
Tag
ANGKATAN UDARA
Dahulu pesawat ini digunakan untuk mengangkut
pesawat ulang alik Buran menggantikan Myasishchev VM-T. Namun seiring dengan
bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991 dan proyek Buran yang tidak dilanjutkan
lagi tahun 1993 pesawat ini terpaksa tidak beroperasi (tidak tampak) selama hampir 8 tahun. Pada tahun 2001,
pesawat ini kembali dioperasikan dengan menjadi pengangkut berat yang bernomor
penerbangan UR-82060 (yang sebelumnya СССР-82060) sampai sekarang.
Sebenarnya, pesawat ini akan dibuat dua unit. Namun
hanya satu yang selesai dan digunakan (UR-82060), sedangkan yang kedua
dijadwalkan rampung pada tahun 2008 lalu ditunda. Sampai Agustus 2009, pesawat
kedua tidak rampung juga dan pengerjaannya telah ditinggalkan. Pesawat ini pernah
mendarat di LANUD Iswahyudi Magetan untuk membawa 4 pesawat Sukhoi pesanan
Indonesia dari Russia 2008 lalu.
Data dari Vectorsite,
Karakteristik umum
Kru: 6
Payload:
250,000 kg
Panjang:
84 m
Lebar
sayap: 88.4 m
Tinggi:
18.1 m
Luas
sayap: 905 m2
Bobot
kosong: 285,000 kg
Bobot
maksimum lepas landas: 600,000 kg
Mesin: 6×
ZMKB Progress D-18 turbofans, 229.5 kN masing-masing
Lari lepas
landas: 3.500 m (11,000 kaki) dengan beban maksimum
Kinerja
Laju
maksimum: 850 km/h (460 knots, 530 mph)
Laju
jelajah: 800 km/h (430 knots, 500 mph)
Jarak
jangkau:
Bahan
bakar penuh: 15,400 km
Batas
tertinggi servis: 11,000 m
Beban
sayap: 662.9 kg/m²
Dorongan/berat: 0.234
Dornier Do-X, Pesawat Amfibi Terbesar di masa perang dunia ke-2
| Ilustrasi Dornier Do-X |
Dornier Do X adalah pesawat terbang amphibi terbesar,
terberat, dan juga paling kuat di dunia pada masanya. Dornier Do X, diproduksi
oleh perusahaan Dornier Jerman pada tahun 1929. Pertama kali dirancang oleh Dr
Claudius Dornier pada tahun 1924.Dornier Do-X dijuluki sebagai perahu terbang
besar. Pesawat terbang ini memang dirancang untuk tinggal landas dan mendarat
diatas permukaan air. Dioperasikan pertama kali oleh Lufthansa, sebuah maskapai
penerbangan terbesar di Eropa yang berasal dari Jerman.
Perencanaan awal dimulai pada akhir tahun 1925 dan setelah
menghabiskan lebih dari 240.000 jam kerja, rancangan itu selesai pada Juni
1929. Hanya Tupolev ANT-20 yang dirancang oleh Maxim Gorki Landplane dari Rusia
yang diluncurkan beberapa tahun kemudian, yang mampu menandingi ukuran fisik
Dornier Do X.Akan tetapi Tupolev ANT-20 tapi tidak mempunyai bobot seberat Do
X. Tupolev ANT-20 memiliki bobot 53 ton, masih kalah bila dibandingkan dengan
Do X yang mempunyai bobot hingga 56 ton.
Proyek Do X sepenuhnya dibiayai oleh Departemen Transportasi
Jerman dan dibangun di sebuah pabrik yang dirancang khusus di Altenrhein,
sebuah wilayah didataran Swiss dekat dengan Danau Constance. Wilayah pabrik
yang berada diluar Jerman dipilih dalam rangka untuk menghindari Perjanjian
Versailles yang melarang setiap pesawat dibangun dengan melebihi batas
kecepatan dan ukuran untuk dibangun di Jerman setelah Perang Dunia I.
Satu tahun kemudian Dornier Do-X melakukan misi penerbangan.
Perahu terbang raksasa ini lepas landas dari Danau Costance – Jerman menuju New
York – Amerika. Rute penerbangannya adalah Amsterdam (Belanda), Lisbon
(Portugal), Rio de Janeiro (Brazil) dan Miami (Florida). Penerbangan ini
dimulai pada tanggal 3 November 1930 dibawah pimpinan Capt. Friedrich
Christiansen.
Penerbangan ini mengungkapkan beberapa dari kekurangan pesawat tersebut. Diantaranya konsumsi bahan bakar yang berlebihan. Pesawat seperti terhuyung-huyung di udara dengan berat lepas landas 55 ton. Bahkan, pesawat terasa sangat berat meskipun dirancang untuk bisa terbang hingga pada ketinggian 10.000. Dornier Do-X diharapkan bisa menyelesaikan penerbangan penumpang transatlantik, tapi ternyata pesawat ini terlalu banyak memiliki masalah. Hampir sepuluh bulan berlalu sebelum DO-X mendarat di pelabuhan New York, dan meskipun menyelesaikan tiga penyeberangan lainnya, jelas bahwa perahu terbang raksasa ini tidak bisa memberikan layanan penumpang efisien untuk penerbangan antara Eropa dan Amerika Serikat.
Penerbangan ini mengungkapkan beberapa dari kekurangan pesawat tersebut. Diantaranya konsumsi bahan bakar yang berlebihan. Pesawat seperti terhuyung-huyung di udara dengan berat lepas landas 55 ton. Bahkan, pesawat terasa sangat berat meskipun dirancang untuk bisa terbang hingga pada ketinggian 10.000. Dornier Do-X diharapkan bisa menyelesaikan penerbangan penumpang transatlantik, tapi ternyata pesawat ini terlalu banyak memiliki masalah. Hampir sepuluh bulan berlalu sebelum DO-X mendarat di pelabuhan New York, dan meskipun menyelesaikan tiga penyeberangan lainnya, jelas bahwa perahu terbang raksasa ini tidak bisa memberikan layanan penumpang efisien untuk penerbangan antara Eropa dan Amerika Serikat.
Karena kurangnya minat komersial (saat itu hanya Lufthansa,
perusahaan penerbangan yang juga asal Jerman yang berminat melakukan uji coba
komersial) dan juga terjadinya sejumlah kecelakaan kecil pada penerbangan yang
berkaitan dengan kestabilan fungsi mesin dan tingginya biaya pemeliharaan
membuat Do X dibangun hanya sebanyak 3 unit prototype saja, dan belum sempat
diproduksi secara masal.
Crew: 10 – 14 orang
Kapasitas penumpang: 66 - 100 penumpang
Panjang: 40 m (134 ft 2 in)
Bentang sayap: 48 m (157 ft 5 in)
Tinggi: 10 m sampai 11 m (33-36 kaki)
Luas sayap: 450 m² (4844 ft ²)
Berat Kosong: 28.250 kg (£ 62.280)
Max berat lepas landas : 56.000 kg (123.460 £)
Mesin: 12 × Curtiss Conquerorr, 455 kW (610 hp)
Performance
Kecepatan maksimum : 211 km / jam (131 mph)
Cruise kecepatan : 175 km / h (109 mph)
Daya Jelajah : 1.700 km (1.056 mi)
Ketinggian terbang : 500 m (1.650 kaki)
Sumber :
- Wikipedia.org
- www.tiket-penerbangan.com
Rabu, 20 Juni 2012
RQ-3A DarkStar Tier III Minus
Tag
ANGKATAN UDARA
UAV Tier III Minus, yang lebih
deikenal dengan julukan DarkStar, merupakan satu dari dua UAV altitude dan
enduransi tinggi yang sedang dikembangkan untuk DARO (Defense Airborne
Reconnaissance Office) oleh Advanced Research Projects Agency (ARPA).
Departemen Pertahanan AS membatalkan progran UAV DarkStar pada Februari 1999
karena pemotongan anggaran. Diberi pilihan antara stealth atau jarak, AU AS
lebih memilih Global Hawk (jarak) dari pada Darkstar (stealth).
Program Tier III Minus adalah
program pertama yang dilakukan di bawah "Section 845 Authority".
Otoritas ini melancarkan jalan kolaborasi antara industri-pemerintah yang
sebelumnya belum pernah dilakukan dengan mengesampingkan peraturan
pengadaan/procurement Dewan Pertahanan. Tier Three Dark Star datang dengan
spesifikasi dalam satu halaman yang menunjukkan kehebatan altitude, enduransi
dan penjejakan (stealth) untuk dengan biaya $10 juta (tahun fiskal 1994) untuk
11-20 unit.
Sistem DarkStar adalaj UAV dengan
altitude dan enduransi tinggi yang dikembangkan untuk pengintaian pada area
dengan pertahanan ketat. Secara fisik, bentang sayapnya sedikit lebih lebar
dari setengah bentang sayap Global Hawk dan panjangnya hanya sepertiganya.
Stasiun operator daratnya dikembangkan oleh Raytheon/E-Systems yang
mengkombinasikan perencanaan misi, komando dan kontrol, komunikasi dan kontrol
kualitas penggambaran area ke dalam sebuah dua stasiun yang dapat berpindah
tempat. Dikembangkan tingkat stealth tinggi, tujuan operasional DarkStar adalah
agar dapat berhasil dan selamat dalam melakukan penetrasi ke wilayah dengan
pengamanan ketat. Melengkapi Tier II Minus, Tier II Plus akan dikembangkan untuk
UAV jarak jauh dalam operasi pengintaian dengan tingkat pengamanan
rendah-medium. Kedua UAV ini dapat lepas landas, terbang dan mendarat secara
otomatis penuh, dan dapat diganti misinya secara dinamis selama dalam
penerbangan. Tier II Minus dapat beroperasi hingga 500 mil laut dari tempat
lepas landas dan dapat terbang selama 8 jam dengan ketinggian 45.000 kaki,
dengan membawa beban sensor radar bidik kamera sitetis atau elektro-optik.
DarkStar dapat mengangkut beban 1.000 pound.
Sistem sensornya mirip dengan Global
Hawk, kecuali lebih sedikit bandwith-nya karena kebutuhan jaringan komunikasi
dalam jarak yang lebih pendek. Sebagai tambahan DarkStar dapat membawa beban
radar atau EO, tidak seperti Global Hawk yang mampu membawa keduanya sekaligus.
Sebuah team dari Lockheed/Boeing
memimpin pengembangan sistem Tier III Minus. Setiap perusahan bertanggung jawab
terhadap 50 persen program. Boeing Military Aircraft Division, Seattle,
bertanggung jawab untuk pengembangan dan uji sayap dan subsistem sayap.
Lockheed Martin Skunk Works, Palmdale, bertanggung jawab pada desain dan
pengembangan bodi pesawat dan subsistemnya, perakitan akhir, integrasi dan uji
sistem. Sebuah mesin turbo-fan, yang disediakan oleh Williams International,
menghasilkan tenaga untuk UAV ini.
DarkStar melakukan penerbangan
pertamanya pada Maret 1996. Pada penerbangan kedua terjadi kecelakaan karena
kesalahan modelling aerodinamis. Pada 22 Desember 1996, Wakil Menteri
Pertahanan untuk Akuisisi dan Teknologi, Paul G Kaminski, menyetujui revisi
terhadap program UAV DarkStar. Revisi program ini merupakan hasil dari review
independen atas kecelakaan yang terjadi tersebut.
Helikopter X, Tercepat di Dunia
Tag
ANGKATAN UDARA
Sama-sama
berawalan X, dua helikopter ini mampu terbang lebih kencang dari heli biasa.
Nama mereka sama-sama menggunakan
huruf X. Yang satu adalah
Sikorksky X2, yang lainnya
bernama Eurocopter X3.
| Sikorksky X2 |
Keduanya adalah helikopter-helikopter yang mampu
melayang lebih cepat dari heli biasa.
Menggunakan bodi Eurocopter Dauphin,
X3 punya beberapa modifikasi dari pendahulunya itu.
Sama-sama
berawalan X, dua helikopter ini mampu terbang lebih kencang dari heli biasa.
Nama mereka sama-sama menggunakan
huruf X. Yang satu adalah
Sikorksky X2, yang lainnya
bernama Eurocopter X3.
| Eurocopter X3 |
Keduanya adalah helikopter-helikopter yang mampu
melayang lebih cepat dari heli biasa.
Menggunakan bodi Eurocopter Dauphin,
X3 punya beberapa modifikasi dari pendahulunya itu.
Seperti dikutip dari situs Physorg, X3 menambahkan mesin ekstra yang digunakan untuk menggerakkan dua
baling-baling tambahan yang terletak di sayap pendek di kanan-kiri bodinya.
Walau cuma menggunakan satu mesin
tambahan itu, namun pesawat yang kini masih berada pada tahap eksperimen itu
mampu berlari lebih kencang daripada helikopter
biasa.
Bila heli biasa biasanya terbang
antara 240-260 km per jam (kph), X3 mampu melayang secepat 430 kph dengan
stabil. Kecepatan ini menempatkan X3 menjadi salah satu helikopter tercepat di dunia.
Helikopter ini diproyeksikan untuk
digunakan bagi keperluan misi pencarian dan penyelamatan SAR, tugas-tugas
penjagaan pantai, misi patroli perbatasan, operasi lepas pantai, hingga
angkutan antar kota .
Sementara untuk keperluan militer,
helikopter ini bisa dimanfaatkan untuk operasi pasukan khusus, SAR,
pengangkutan tentara, serta evakuasi medis.
Namun kecepatan X3 masih kalah oleh helikopter Sikorsky X2, yang saat ini juga masih pada tahap uji coba.
Pada uji coba 15 September 2010, Sikorsky X2 berhasil melaju dengan kecepatan
hingga 460 kph dalam penerbangan stabil.
Bahkan heli ini bisa menempuh 480
kph pada penerbangan dengan sudut sedikit menurun.
Tak seperti Eurocopter X3, Sikorsky X2 menggunakan coaxial rotor dengan
baling-baling ganda serta diperkuat dengan baling-baling tambahan di bagian
ekornya.
Helikopter ini menggunakan berbagai teknologi baru, antara lain sistem
Fly-by-Wire yang memungkinkan sistem mesin beroperasi secara efisien.
Dengan kecepatan yang diraih saat
ujicoba, X2 telah berhasil mencetak rekor tak resmi sebagai helikopter tercepat di dunia.
Sumber :
Vivanews.com
Grumman F8F Bearcat
Tag
ANGKATAN UDARA
F8F Bearcat adalah fighter dengan
mesin piston terakhir yang dibuat oleh Grumman. Pesawat ini mulai dikembangkan
pada awal tahun 1943 setelah pilot uji dan para insinyur Grumman mempelajari
Focke Wulf Fw 190 yang berhasil direbut dari Luftwaffe. Dirancang sebagai
penerus dari F6F Hellcat, F8F Bearcat melakukan penerbangan pertama pada
tanggal 21 Agustus 1944.
Dibandingkan dengan F6F, maka F8F
bisa dikatakan memiiliki bobot yang lebih ringan dengan kecepatan yang lebih
tinggi dan kemampuan manuver yang lebih baik. Namun hal tersebut harus ditebus
dengan jarak tempuh yang lebih pendek dan persenjataan yang hanya berupa empat
pucuk senapan mesin kaliber 12,7mm (walaupun dalam varian selanjutnya
digantikan dengan empat pucuk kanon kaliber 20mm).
Skadron VF-19 adalah unit Angkatan
Laut AS pertama yang menggunakan F8F pada bulan Mei 1945, namun kehadirannya
terlambat untuk ikut digunakan dalam Perang Dunia II. F8F Bearcat adalah
fighter utama US Navy pasca Perang Dunia II, termasuk digunakan pada masa-masa
awal pembentukan team aerobatik Blue Angels.
F8F Bearcat ditarik dari skadron-skadron
garis depan pada tahun 1952 dan dipensiunkan oleh Angkatan Laut AS. Selama
digunakan oleh Angkatan Laut AS bisa dikatakan pesawat ini tidak pernah
digunakan dalam pertempuran. Dalam Perang Korea US Navy lebih memilih
menggunakan pesawat-pesawat jet tempur seperti Grumman F9F Panther dan
McDonnell F2H Banshee. Yang menggunakan F8F Bearcat dalam medan tempur yang
sesungguhnya justru adalah Angkatan Udara Perancis.
Pada awal tahun 1950-an Perancis
membeli 250 unit varian F8F-1D (yang merupakan hasil refubrbish dari F8F bekas
pakai Angkatan Laut AS). Angkatan Udara Perancis kemudian banyak menggunakan
pesawat ini dalam perang di Indo-China, termasuk dalam pertempuran di Dien Bien
Phu. Pada tahun 1955 sekitar 70 unit F8F-1D milik Perancis yang masih tersisa
kemudiah dihibahkan kepada Angkatan Udara Vietnam Selatan dan ikut digunakan
dalam Perang Vietnam hingga akhir tahun 1960-an, sebelum kemudian banyak
digantikan oleh Douglas A-1 Skyaraider dan Cessna A-37 Dragonfly.
Selain AS, Perancis, dan Vietnam
Selatan, negara lainnya yang juga menggunakan F8F Bearcat adalah Thailand.
Angkatan Udara Thailand tercatat pernah mengoperasikan 204 unit F8F Bearcat
dari tahun 1951 sampai dengan tahun 1963.
Setelah tidak digunakan lagi oleh
militer, F8F Bearcat banyak digunakan oleh pilot-pilot sipil dalam berbagai
perlombaan udara. Salah satu pesawat F8F sipil yang terkenal adalah F8F hasil
modifikasi milik Lyle Shelton yang diberi nama Rare Bear. Pesawat ini di tahun
1989 berhasil mencatat rekor sebagai pesawat piston paling cepat dengan
kecepatan maksimum mencapai 850 km/jam.
Specifications (F8F-1B) :
Crew : 1
Length : 8.61 m
Wingspan : 10.92 m
Height : 4.20 m
Empty weight : 3,206 kg
Maximum take-off weight : 5,873 kg
Powerplant : 1 x 2,100 hp Pratt
& Whitney R-2800-34W double-row radial engine
Maximum speed : 677 km/h
Range : 1,778 km
Service ceiling : 11,795 m
Rate of Climbing : 1,395 m/minute
Armament : 4 x 20mm cannons, and 2 x
1,000 (454 kg) bombs or 8 x 127mm rockets
Centurion Main Battle Tank
Tag
AGKATAN DARAT
Varian awal Centurion masih dipersenjatai dengan
meriam 17 pdr, sama seperti tank Sherman Firefly dalam Perang Dunia II. Namun
seiring dengan perkembangan teknologi, maka meriam 17 pdr kemudian digantikan
dengan meriam 20 dpr dan akhirnya dengan meriam L7 kaliber 105mm. Meriam L7
sendiri adalah meriam tank yang paling sukses dalam sejarah dan masih
dipergunakan hingga saat ini. Selain digunakan oleh Inggris, Centurion juga
digunakan oleh banyak negara dan bisa dikatakan menjadi satu-satunya tank Inggris
yang terbukti sangat handal di lapangan. Negara-negara pengguna Centurion
selain Inggris adalah Australia, Austria, Kanada, Denmark, Mesir, India, Irak,
Israel, Yordania, Kuwait, Lebanon, Belanda, Selandia Baru, Singapura, Somalia,
Afrika Selatan, Swedia, dan Swiss.
Centurion pertama kali digunakan di medan tempur
dalam Perang Korea oleh pasukan Inggris dan merupakan tank modern pertama yang
digunakan di medan perang. Inggris juga menggunakan tank ini dalam Krisis Suez
tahun 1956. Centurion milik Australia digunakan dalam Perang Vietnam, sementara
India menggunakan tank ini dalam Perang India-Pakistan tahun 1965 dan 1971.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa tank Centurion
melegenda di tangan pasukan Israel. Tank ini menjadi andalan pasukan Israel
dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dan Perang Yom Kippur tahun 1973. Dalam
invansi Israel ke Lebanon Selatan tahun 1982 pun tank ini masih menjadi andalan
pasukan Israel.
Saat ini sebagian besar negara-negara pengguna
Centurion sudah mempensiunkan tank ini sebagai tank tempur, kecuali dalam
varian modifikasi seperti APC Nagmachon milik Israel yang masih digunakan dalan
konflik Israel-Lebanon tahun 2006. Walaupun demikian, sejumlah Centurion hasil
modifikasi masih digunakan sebagai MBT (Main Battle Tank), seperti yang
dilakukan Afrika Selatan dengan Olifant Mk.1 A/B dan Mk.2
Specification (Centurion Mk.13)
Crew
: 4
Armament :
Co-axial : 1 x 7.62mm machine gun
Anti-aircraft : 1 x 7.62mm machine gun
Combat weight : 51,820 kg
Length : 9.85 m
Width : 3.39
m
Height : 3.00 m
Powerpack : 650 hp Rolls Royce Meteror Mk.IV B Meteor petrol
engine
Maximum road speed : 34 km/h
Range : 190 km
SH-3 Sea King, Sang Raja Lautan
SH-3 Sea King telah dipakai dengan berbagai keupayaan
seperti radar cuaca, “Doppler dan Doppler GPS”, Instrument Landing System dan,
Night Vision Capabilities. SH-3 Sea King dirancang untuk terus digunakan sampai
tahun 2018.
Setiap SH-3 Sea King akan melalui pemeriksaan “Check One”
bagi setiap pesawat mengambil masa sekitar 2 atau 3 hari manakala “Check Two”
kurang lenbih dua minggu dan seterusnya “Check 4” dan “Check 5” yang memakan
masa di bawah enam bulan saja.
Penyelenggaraan SH-3 Sea King kini diserahkan kepada AIROD
Sdn Bhd. SH-3 Sea King yang tidak boleh terbang diletakkan dalam status
“Aircraft On Ground” dan “Aircraft On Jack”. Alat ganti yang diperlukan akan
dibekalkan selewat-lewatnya 72 jam dari waktunya berstatuskan “Aircraft On
Ground”.
Dibuat oleh Sikorsky, SH-3 Sea King pertama terbang pada
tahun 1959, dan beroperasi dengan Angkatan laut Amerika Serikat pada Juni 1961.
Ia direka untuk beroperasi di atas geladak kapal. Lima bilah kipasnya dapat dilipat untuk mudah
disimpan. Kegunaan utamanya adalah untuk pertempuran anti-kapal selam, tetapi
juga berfungsi sebagai pesawat udara anti-kapal, SAR, pengangkutan, komunikasi,
pengangkutan eksekutif dan peranan Airborne Early Warning. Dalam Angkatan laut
Amerika Serikat, peranan pesawat udara anti-kapal selam dan cari dan menyelamat
telah digantikan oleh SH-60 Sea Hawk sekitar 1990-an, tetapi tetap digunakan
dalam peran lain, sebagai pesawat udara anti-kapal selam simpanan, dan keliling
dunia. Semua pesawat udara H-3 yang masih berada dalam penggunaan Angkatan laut
Amerika Serikat masih digunakan dalam peranan sokongan logistik, sokongan jarak
jauh, SAR, dan pengangkutan VIP.
Variasi Westland Sea King dihasilkan di bawah lisensi oleh
Westland Helicopters, Ltd. di Britania Raya, yang menghasilkan versi khusus
untuk Royal Navy. Ia dikuasai oleh sepasang Rolls-Royce Bristol Gnome turbin
British, dan mempunyai peralatan anti-kapal selam dan penerbangan British.
Variasi ini mulai terbang pada 1969, dan memasuki penggunaan pada tahun
berikutnya. Ia juga digunakan oleh Royal Air Force dan telah dijual ke seluruh
dunia. Pesawat ini juga dihasilkan di Jepang bawah lisensi.
Negara yang menggunakan SH-3 Sea King adalah Argentina,
Australia, Belgia, Brasil, Kanada, Mesir, Jerman, India, Jepang, Malaysia,
Norwegia, Pakistan, Qatar, Spanyol dan Britania Raya.
Persenjataan dan peralatan SH-3 Sea King berbeda sesuai dengan
peranannya. Persenjataan biasa bagi tugasan anti-kapalselam termasuk empat
torpedo, empat depth charges atau rudahl anti-kapal (Sea Eagle atau Exocet).
Dalam SAR kabin SH-3 Sea King mampu memuat 22 orang atau dua pegawai media.
Dalam peranan pengangkut tentara, 28 tentara dapat dibawa.
SH-3 Sea King juga digunakan sebagai helikopter resmi bagi
Presiden Amerika Serikat, beroperasi di bawah kawalan Marinir Amerika Serikat.
Ia dikenal sebagai Marine One apabila beliau berada di dalam.
Eagle Eye UAV
Eagle Eye mempunyai bentang sayap
15.2 kaki, panjang 17.9 kaki dan tinggi 5.7 kaki, dengan berat 2.000 pound
(tergantung beban yang dibawa). Uji terbang pertama (hanya melayang) dilakukan
di fasilitas BHTI di Dallas, Texas ,
pada 1992.
Setelah berhasil dalam uji terbang
pertama (melayang), team pemerintah dan kontraktor pindah ke Yuma Proving
Grounds (YPG) untuk uji terbang lanjut di kuartal ketiga 1993. Uji terbang
tersebut berhasil dan Eagle Eye terbang dengan mode helikopter, diubah melalui
mode transisi ke mode pesawat. 35 penerbangan telah dilakukan dengan total lama
terbang 15 jam. Kecepatan maksimal yang dapat dicapai adalah 159 knots pada
ketinggian 1.550 kaki di atas rata-rata permukaan laut.
Pemerintah tidak lagi membutuhkan
UAV Vertical Take Off and Landing (VTOL) dan kemudian membatalkan perjanjian
seluruh demonstrasi/pengambangan UAV Vertical Take Off and Landing (VTOL). BHTI
melanjutkan pengembangan Eagle Eye bersama dengan R&D.
Pada musim semi 1998, pemerintah
kembali menginginkan demonstrasi UAV VTOL dan mengontrak BHTI untuk
mendemonstrasikan kualitas dan performa penerbangan Eagle Eye. Demonstrasi ini
dilakukan dalam dua fase. Fase Pertama berupa demonstrasi penerbangan dengan
landasan terbang darat dan Fase Kedua berlandasan laut (kapal laut). Fase kedua
berhasil dilaksanakan pada April 1998 di Yuma Proving Ground.. UAV ini terbang
lebih dari 43 kali dengan 55.5 jam terbang dan berhasil mencapai kecepatan 200
knots, dengan ketinggian 14.600 kaki. Fase Kedua dilaksanakan pada 1999 dan
dilakukan di sebuah kapal perang kecil. Purwarupa pertama hancur dalam sebuah
kecelakaan, tetapi purwarupa kedua berhasil melalui program uji ini.
Keberhasilan dalam program uji ini
membuat UAV ini masuk dalam program “Deepwater” pada 2002 dan pembuatan UAV
dengan ukuran sebenarnya, dan disebut dengan TR918, dengan mesin turboshaft
Pratt & Whitney Canada P200/55.
Bell telah mempromosikan Eagle Eye
selama satu dekade untuk mendapatkan pembeli, dan pada musim panas 2002 penjaga
pantai AS memesan UAV ini sebagai bagian program Deepwater.
Specifications
Manufacturer: Bell
Helicopter - Textron , Texas
AV Type: Tilt Rotor
Length: 17.9/5.46 (ft/m)
Height: 5.7/1.73 (ft/m)
Wingspan: 15.2/4.63 (ft/m)
Rotospan (diameter): 9.5/2.90 (ft/m)
Take-Off Gross Weight: 2250/1020
(lbs/kg)
Empty Weight: 1300/590 (lbs/kg)
Fuel Weight: 750/340 (lbs/kg)
Payload Weight: 200/90 (lbs/kg)
Speed (kts): Max 200+, Cruise 0-200
Altitude: 20,000/6,100 (ft/m)
Endurance: 8 hours
Radius of Operation: 110/200 LOS
(nm/km)
Engine: Allison 250-C20 GT 420 shp
Fuel: Heavy.JP
Landing Gear: Wheeled/Retractable
Flight Control: Automated/Dual
Redundant
Take Off/Landing: VTOL/STOL
AV Data Link(s): S-Band/UHF (TCDL
future)
Payload: FLIR - EO/IR - SAR
RAH-66 Comanche, Stealth Copter
Tag
ANGKATAN UDARA
Selama awal tahun 1980-an, Angkatan
Comanche menggunakan mesin T800-LHT-802 sebanyak dua buah keluaran Light Helicopter Turbine Engine Company yang merupakan perusahaan gabungan antara Rolls Royce (Inggris) dengan Honeywell (AS). RAH-66 mempunyai sistem rotor dengan 5-daun (blade) besar dan rotor yang lebih kecil pada bagian ekornya yang terlindung, seperti halnya helikopter Gazelle milik Perancis. RAH-66 mempunyai penyimpanan senjata internal dan sayap (“terpotong”) opsional yang memungkinkan stabilitas penambahan persenjataan, dengan resiko (jika sayap opsional dipasang) akan lebih mudah terdeteksi oleh radar. Persenjataan standar RAH-66 adalah meriam General Electric tiga barel 20mm dalam sebuah sistem turret Giat. Pilot dan co-pilot (gunner) duduk bersebelahan pada kokpit dengan visibilitas yang baik.
Sistem penerbangan dan kontrol pada
RAH-66 terdiri dari kontrol “helmet-mounted”, kontrol siklik “sidestick”,
display peta 3D, sistem fly-by-wire dengan sebuah fitur “triple redundancy”,
pelacak Laser dan FLIR serta radar gelombang milimeter yang ditiru Apache
Longbow.
Pada simulasi medan pertempuran, sistem RAH-66 akan sangat
mendukung pertempuran dengan menembak kendaraan lapis baja dan pesawat musuh
pada jarak jangkaunya.
Desain dan
Perkembangan
Uji penerbangan dilakukan dengan dua purwarupa. Purwarupa Comanche pertama, seri 94-0327, menyelesaikan 318 penerganban lebih dari 387 hours sebelum mengakhiri karir ujunya pada Januari 2002. Setelah menemui kriteria kunci, RAH-66 memasuki fase perkembangan perancangan dan pembuatan pada 1 Juni 2000 yang menghabiskan 3,1 miliar Dolar Amerika Serikat. Usaha untuk mengurangi berat kosong dengan kira-kira 200 lb (90.7 kg) atau 2% untuk menemui berat sasaran dimulai kemudian Tahun itu. Purwarupa kedua, seri 95-0001, telah menyelesaikan 93 jam terbang dan 103.5 penyerbuan pada Mei 2001.
RAH-66 kedua menerima peralatan misi dan mesin T800-LHT-801 yang lebih kuat dan melanjutkan uji terbang dari 23 Mei 2002, termasuk uji pandangan malam dan sistem senjata, hingga 2003. Selama uji coba, the Comanche menjelajah pada kecepatan 162 knot, dengan kecepatan maksimal 172 knot (198 mph; 319 km/jam), serta menunjukkan sebuah kemampuan untuk membuat belokan 180° (derajat) kurang dari 5 detik.
Pembatalan
Pada 23 Februari 2004, Angkatan Darat Amerika Serikat mengumumkan keputusan mereka untuk membatalkan program helikopter Comanche mengingat kebutuhan untuk menyediakan dana untuk merenovasi armada helikopter yang mengalami serangan penuaan, utilitas, dan pesawat pengintai. Angkatan Darat AS juga merencanakan untuk menggunakan dana program Comanche untuk mempercepat perkembangan kendaraan udara tak berawak (UAV). UAV telah menyediakan pengintai selama operasi militer di Afganistan dan Irak. Kira-kira 6.9 milliar
Karakteristik
umum
- Kru: 2 orang
- Panjang: 46.85 kaki
- Lebar sayap: 39.04 kaki
- Tinggi: 11.06 kaki
- Luas sayap: 1,197 kaki²
- Bobot kosong: 8,690 pon
- Bobot terisi: 10,597 pon
- Bobot maksimum lepas landas: 17,175 ponFuselage
length: 43.31 ft (13.20 m)
- Rotor systems: 5 baling-baling pada rotor utama
Kinerja
- Laju maksimum: 175 knot (201 mph, 324 km/h)
- Laju jelajah: 165 knots (190 mph, 306 km/h)
- Jarak jangkau: 262 nmi (bahan bakar internal)
- Jarak jangkau ferri: 1,260 nmi
- Batas tertinggi servis: 14,980 kaki
- Laju panjat: 1,418 kaki/menit
Persenjataan
- 1× 20 mm XM301 meriam tiga laras (kapasitas 500
rentetan)
- Internal bays: 6 Hellfires or 6 Stingers (ATAS) or 24
Hydra 70 2.75 in (70 mm) roket udara-darat
- Optional stub wings: 8 Hellfire, 16 Stinger or 56 x
Hydra 70 roket udara-darat
Sumber : - Wikipedia.org
:
- komandomiliter.blogspot.com
:
- hielmy.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)
