Ads 468x60px

Kapal Perusak

Kapal Perusak (Destroyer)

Kapal perusak atau destroyer merupakan kapal perang yang mampu bergerak cepat serta lincah bermanuver. Fungsi kapal perusak adalah memproteksi armada kapal perang yang berukuran lebih besar seperti kapal induk (carrier) atau capital warship (kapal tempur (battleship) atau kapal penjelajah (cruiser)) dari ancaman serangan peralatan perang yang lebih kecil seperti kapal...

Read More
Historical Battle of Iwo

Historical Battle of Iwo Jima

Pertempuran Iwo Jima terjadi antara 19 Februari - 26 Maret 1945, (dengan kode sandi Operasi Detasemen) adalah pertempuran di mana Amerika Serikat bertujuan merebut Iwo Jima dari Jepang. Invasi AS memiliki misi merebut dua lapangan udara di Iwo Jima. Dalam pertempuran tersebut, Amerika Serikat berhasil merebut Iwo Jima, termasuk pangkalan udara yang ada di pulau milik Jepang tersebut. Perang ini disebut sebagai perang tersengit...

Read More
Olimpedit quo minus

Mitsubishi A6M/Zero

Mitsubishi A6M yang terkenal, secara popular disebut dengan julukan “Zero”, adalah pesawat tempur kapal induk pertama di dunia yang mampu mengalahkan pesawat tempur “land-based” sejaman yang dia hadapi. Karena kecerobohan inteligen Sekutu, pesawat ini mampu meraih superioritas udara intermediet diatas Hindia Timur dan Asia Tenggara....

Read More
Itaque earum rerum

TBF Avenger

Grumman TBF Avenger adalah pesawat pembom torpedo yang awalnya dikembangkan untuk Angkatan Laut Amerika Serikat dan Korps Marinir , dan pada akhirnya digunakan oleh beberapa angkatan laut dunia. Mengawali karir AS pada tahun 1942, dan memulai debutnya pada Pertempuran Midway . Akibat minimnya pengalaman penerbang pembom torpedo Amerika,...

Read More
Epudiandae sint molestiae

KRI Irian

Kapal jenis ini adalah Kapal Penjelajah konvensional terakhir yang dibuat untuk AL Soviet, 13 kapal diselesaikan sebelum Nikita Khrushchev menghentikan program ini karena kapal jenis ini dianggap kuno dengan munculnya rudal (peluru kendali). Kapal ini adalah versi pengembangan dari Penjelajah Kelas Chapayev. KRI Irian sebenarnya adalah kapal Penjelajah Ordzhonikidze dari armada Baltik AL Soviet...

Read More
Sahut aut reiciendis

Tank Tiger, Masterpiece From world War 2

Tank Tiger adalah salah satu jenis Tank Berat Jerman yang beroperasi pada waktu Perang Dunia ke 2. Nama resmi Tiger adalah PzKpfw VI Ausf. E yang disandangnya sejak Maret 1943. Tank Tiger muncul pertama kali pada tahun 1942 sebagai usaha Jerman untuk mengalahkan Tank Uni Soviet, T 34 yang terkenal dengan mobilitas dan daya serang yang tinggi. Tank Tiger dirancang oleh Henschel dan Sohn dengan berat sekitar 60 ton tiap buahnya. Selama Perang...

Read More

Minggu, 01 Juli 2012

Historical Battle of Iwo Jima


Pertempuran Iwo Jima terjadi antara 19 Februari - 26 Maret 1945, (dengan kode sandi Operasi Detasemen) adalah pertempuran di mana Amerika Serikat bertujuan merebut Iwo Jima dari Jepang. Invasi AS memiliki misi merebut dua lapangan udara di Iwo Jima. Dalam pertempuran tersebut, Amerika Serikat berhasil merebut Iwo Jima, termasuk pangkalan udara yang ada di pulau milik Jepang tersebut.
Perang ini disebut sebagai perang tersengit dan paling berdarah di arena Perang Dunia II.  Dari 22.000 orang tentara Jepang yang bertahan, hanya 300 orang yang tertangkap hidup secara berangsur, termasuk 3 orang yang baru tertangkap tahun 1951, 6 tahun setelah perang berakhir. Korban di pihak Sekutu pun tidak kecil. Dari 70.000 orang tentara yang terlibat langsung dalam operasi ini, 6.800 orang gugur (data resmi pihak Sekutu) dan lebih dari 19.000 orang luka berat dan ringan.

Operasi Detasemen ini merupakan operasi dengan korban terbesar di pihak AS. Korban disini lebih besar daripada jumlah korban tewas dalam Pertempuran Atol Tarawa. Korban luka-luka di Pertempuran Atol Tarawa mencapai 22.000 prajurit. Sengitnya pertempuran ini juga ditunjukkan dari jumlah Medali Kehormatan, penghargaan tertinggi dari pemerintah AS untuk prajurit yang dianggap berjasa dalam perang. Dari jumlah 82 medali yang dibagikan untuk semua Marinir yang telibat Perang Dunia II, 28 diantaranya diberikan untuk prajurit yang terlibat di front Iwo Jima ini.
Raising Flag on iwo Jima

Pertempuran ini terkenal dengan sebuah foto yang menggambarkan sejumlah tentara Amerika yang sedang menegakkan bendera Amerika Serikat di puncak Gunung Suribachi saat pertempuran berlangsung. Foto tersebut menjadi sebuah foto yang monumental bagi negara Amerika mengenai peperangan di Iwo Jima. Foto tersebut diproduksi oleh berbagai media massa di Amerika. Penduduk Amerika seakan tidak pernah bosan karenanya. Roosevelt, presiden Amerika pada saat itu, melihat hal itu sebagai sebuah ide yang tepat untuk tema tur penggalangan dana yang akan dilakukan (bond tour). Tour tersebut berhasil menggalang dana sebesar 24 miliar dolar (pada tahun 1945) yang merupakan penggalangan dana terbesar dalam sejarah Amerika.
                          
ARTI PENTING IWO JIMA

Gunung Suribachi
Iwo Jima sendiri bukanlah pulau yang indah melainkan sebuah pulau yang tertutup pasir berwarna hitam yang berasal dari gunung api Suribachi. Disana masih banyak lubang-lubang yang mengeluarkan asap, jurang-jurang yang dalam dan batu karang yang tinggi. Ukurannya sendiri tidaklah besar, hanya 8 mil persegi. Namun pulau yang nampak buruk ini memiliki nilai tinggi dilihat dari sisi militer. Pesawat pengebom B-29 bisa terbang dari pulau Saipan untuk mengebom Jepang, hanya saja pulau Saipan masih terlalu jauh dari Jepang (1.200 mil) sehingga pengebom tersebut tidak bisa dikawal pesawat-pesawat pemburu, kecuali jika pesawat-pesawat pemburu itu dilepaskan dari kapal induk dalam jarak yang lebih dekat lagi dengan Jepang.

Letak pulau Iwo Jima lebih dekat dengan Jepang (600 mil) , jika pulau ini bisa direbut dan digunakan sebagai pangkalan udara maka B-29 dapat terbang lebih cepat menuju Jepang sekaligus mendapatkan pengawalan pesawat-pesawat pemburu. Sebab di  jepang masih terdapat 10.000 pesawat terbang berbagai jenis.


PERSIAPAN

Strategi Sebelum Pendaratan
http://johnbatchelorshow.com/images/Iwo%20Jima%20with%20Landing%20Craft%20and%20Mt.%20Suribachi.jpg
Pendaratan pasukan Amerika di Iwo Jima
Pendaratan di Iwo dilakukan pada tanggal 9 Februari 1945. Tiga hari sebelumnya, kapal-kapal perang dan kapal-kapal pengangkut yang akan menurunkan 60.000 marinir sudah berlabuh di depan pantai Iwo.
Untuk mencegah gangguan dari pesawat udara Jepang, diseranglah Tokyo tiga hari sebelum serangan Iwo 16 Februari 1945 ini di bawah pimpinan Spruance, dan satuan tugas dengan kapal-kapal induk di bawah Mitscher, bernama Task Force 58. Pada titik 120 mil dari Tokyo, dilepaslah pesawat untuk menyerang sasaran utama, pabrik pesawat terbang Jepang.
Serangan ini berlangsung beberapa hari, sehingga tujuan lain pun tercapai: selama pendaratan Sekutu di Iwo (600 mil dari Tokyo), tidak ada serangan dari pesawat udara Jepang. Laut dan udara di sekitar Iwo dikuasai Sekutu. Tinggal pertempuran di daratan pulau Iwo Jima , menghadapi the most formidable defended eight square miles (delapan mil yang paling hebat dipertahankan di Pasifik).

Benteng Kokoh Iwo Jima
Iwo Jima adalah pulau gunung api yang baru muncul dari laut belum sampai 90 tahun. Terdapat Gunung Suribachi, yang masih terdapat lubang-lubang yang mengeluarkan uap, tanda bahwa pulau ini masih aktif. Di sebelah tengah dan utara terdapat jurang-jurang dalam, batu karang yang tinggi – satu pulau yang ideal untuk dipertahankan. Jenderal Kuribayashi memerintahkan para insinyurnya mendirikan benteng-benteng di bawah tanah, di dalam gunung Iwo Jima. Terowongan bawah tanah sepanjang 5.000 meter digali Jepang, yang satu sama lain berhubungan (seperti jaring laba-laba).
http://rifkymedia.files.wordpress.com/2009/12/b-29_in_flight.jpg
Pesawat B-29
Selama 74 hari pulau itu di bom oleh pesawat-pesawat B-24. Pada jam 02:00 19 Februari 1945, tembakan-tembakan dari battleship membuka serangan ke pulau Iwo Jima. Segala jenis persenjataan digunakan Amerika untuk menyerang pulau, mulai dari meriam-meriam kapal tempur, senjata anti pesawat hingga roket-roket, semua itu ditambah lagi dengan 100 pesawat pengebom yang menyerang pulau Iwo Jima. Namun pihak Amerika tidak menyangka pertahanan Jepang masih utuh. Taktik Kuribayashi terbukti ampuh. Pulau seperti iwo jima, tahan bom apa pun juga. Selama 72 hari sebelum mendarat, Sekutu membomnya berturut-turut.

Jam 08:59, 30.000 Marinir dari 3rd, 4th, and 5th Marine Divisions mendarat di pantai Iwo Jima, saat itu masih belum terdengar tembakan dari tentara Jepang sehingga para Marinir mengira bahwa bombardment dari kapal-kapal perang dan pesawat sudah berhasil membunuh semua tentara Jepang di pulau itu.

http://i41.photobucket.com/albums/e263/DeGanteng/USS_New_York-11-bombard-IwoJIma.jpg
USS New York
Namun saat Marinir mulau bergerak maju, secara tiba-tiba bunker-bunker Jepang mulai menembaki mereka. Marinir sendiri kesulitan mencari bunker Jepang, bunker-bunker itu tersamarkan dengan baik sehingga kadang baru terlihat jika tentara Jepang yang di dalamnya menembak. Medan pasir vulkanis ikut memperburuk keadaan, menggali lubang perlindungan di sana sia-sia sebab pasir vulkanis akan segera menutup lubang yang baru dibuat itu. Meriam artillery Jepang terletak di dalam lubang perlindungan yang diperkuat dengan pintu baja, begitu selesai menembak maka pintu baja itu ditutup untuk mencegah balasan tembakan dari pihak Sekutu.

Dan lebih buruk lagi bunker-bunker itu memiliki semacam terowongan yang berhubungan satu dengan yang lain. Jadi saat satu bunker berhasil dibersihkan dengan flamethrower atau granat, tentara Jepang yang lain segera mengisi bunker itu.

Prajurit yang maju merangkak, mungkin selamat dari tembakan senapan mesin, tapi tidak terhadap peluru dan pecahan mortir. Dan mortir yang di gunakan Jepang di Iwo adalah mortir raksasa. Besar diameternya 320 mm, mortir terbesar yang pernah digunakan di medan Perang Pasifik.


Marinir juga menggunakan delapan tank M4A3R3 Sherman dan dipersenjatai dengan Navy Mark I flame thrower ("Ronson" atau Zippo Tanks) untuk membersihkan pertahanan Jepang. Tank ini terbukti efektif, lapisan bajanya dapat melindungi awak tank dari senapan mesin Jepang, terkecuali meriam berat. Sedangkan di langit, pesawat-pesawat P-51 Mustang menembaki daerah-daerah yang dicurigai sebagai bunker Jepang.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/87/Tadamichi_Kuribayashi1.jpg/200px-Tadamichi_Kuribayashi1.jpg
Jendral Kuribayashi
Setelah kehabisan air minum, makanan dan perbekalan, tentara Jepang mulai kehilangan semangatnya. Beberapa melakukan bunuh diri dengan granat. Jendral Kuribayashi sendiri sebenarnya sejak awal memerintahkan untuk jangan melakukan serangan banzai, namun beberapa tentara Jepang nekat melakukan banzai di malam hari.

Salah satu pesan Jendral Kuribayashi kepada tentara Jepang di Iwo Jima

We shall defend this island with all our strength to the end.
We shall fling ourselves against the enemy tanks clutching explosives to destroy them.
We shall slaughter the enemy, dashing in among them to kill them.
Every one of our shots shall be on target and kill the enemy.
We shall not die until we have killed ten of the enemy.
We shall continue to harass the enemy with guerrilla tactics even if only one of us remains alive. 

Akibat pertempuran

Di Iwo ini pasukan Sekutu yang mati 550 orang, tapi yang luka 16.000 orang. Mungkin kita menganggap jumlah yang mati saja yang penting, karena luka bisa sembuh. Tapi dengan luka yang seperti dijelaskan diatas akibat mortir 320 mm, maka dapatlah dibayangkan apa yang terjadi.

Inilah perang dalam bentuk hebat. Tapi yang paling hebat ialah orang yang menjadi gila karena suara dentuman, ledakan, hujan peluru artileri, mortir, senapan mesin, dan dinamit. Serdadu yang karena “senewen” menjerit-jerit, dan berontak-rontak di atas usungan di mana dia diikat. Luka tubuhnya mengerikan, tapi jiwa yang robek karena peperangan, adalah war at its worst, perang dalam bentuk sehebat-hebatnya. Keith Weeler, wartawan Chicago Times bilang: There’s more hell in there than I’ve seen in the rest of this war put together. “Iwo Jima seperti neraka, lebih hebat daripada semua pengalaman saya selama peperangan ini digabung menjadi satu.”

Senjata yang paling ditakuti Jepang adalah penyembur api (flamethrower) merek Ronson. Tetapi pasukan dengan penyembur api itu tidak bisa berbuat banyak kalau sasaran masih jauh. Bila maju sendirian, maka akan dihadang hujan tembakan. Maka digunakan tank bulldozer, sebuah kendaraan berlapis baja, yang meratakan jalan bagi barisan penyemprot api. Tapi Kuribayashi dengan cepat pula mengubah taktiknya. Kemudian semua peluru. Ditujukan. Kepada tank buldozer itu.

Tetapi bagaimanapun kuat dan cerdiknya Kuribayashi dengan benteng dan orang-orangnya, kalau laut dan udara dikuaai musuh, dan bala bantuan tidak bisa didatangkan, benteng itu akhirnya harus jatuh juga.

Harga Mahal Yang Harus Dibayar
Lebih dari 20.000 marinir Amerika yang mati dan luka. Terlalu mahalkah untuk mendapatkan Iwo Jima? Jawab mereka: tidak. Sampai akhir peperangan, 2.251 pesawat B29 mendarat di Iwo. Sebagian besar dari ini akan lenyap, kalau Iwo tidak ada. Tiap B-29 itu mempunyai anak buah sebanyak 11 orang, sehingga jumlahnya yang mendarat 24.761 orang, hampir sama dengan 22.082 marinir Amerika yang mati dan luka ketika merebut Iwo . Menurut Amerika korban itu seimbang dengan nilai Iwo sebagai pangkalan.

Itulah perang, di mana prestasi manusia antara lain terukur dari berapa nyawa yang dicabut dan darah yang ditumpahkan.



Sumber           : www.indowebster.web.id
                          www.kaskus.co.id
                          Wikipedia.org
                          dainipponjepang.blogspot.com
                          gadingmahendradata.wordpress.com
                          www.kompasiana.com/jayakardi

De Havilland Comet, Pesawat Jet Komersial Pertama


De Havilland Comet merupakan pesawat jet komersial pertama pasca PD II yang dikembangkan dan diproduksi oleh pabrikan de Havilland, Inggris. Pada masa itu semua lini penerbangan komersial masih mengandalkan pesawat bermesin piston (baling-baling).

Pada masa PD II dan sesudahnya, de Havilland telah sukses dalam mengembangkan dan memproduksi de Havilland Mosquito, jenis pesawat fighter bomber yang terlibat dalam berbagai operasi udara termasuk Pasifik dan Mediterania. De Havilland Mosquito terkenal dengan sebutan The Wooden Wonder atau The Timber Terror, karena Mosquito seluruhnya terbuat dari bahan plywood.

Berbeda dari Mosquito, de Havilland Comet dibangun dari bahan logam alloy dan sambungannya direkatkan oleh senyawa Redhux dengan tambahan paku keling (rivet punch). Desainnya menganut konsep low wing cantilever monoplane dengan 4 buah mesin jet yang dipasang pada sayap.

SEJARAH
http://www.century-of-flight.net/Aviation%20history/photo_albums/timeline/airliners/images/10.jpg
Penerbangan Perdana
Perancangan dimulai pada 1946 dibawah pengawasan Ronald Bishop dengan keinginan untuk memiliki pesawat komersial pada 1952. DH 106 Comet terbang pertama kali pada 27 Juli 1949. Rancangannya mirip dengan pesawat lainnya kecuali empat mesin turbojet de Havilland Ghost 50 Mk1 dipasang di bawah sayap, berpasangan di dekat "fuselage". Pesawat ini menjalani pengetesan dan perbaikan selama tiga tahun dan melakukan penerbangan komersial pertama dilakukan pada 22 Januari 1952 dengan BOAC. Pesawat ini terbukti terbang dua kali lebih cepat dari pesawat lainnya saat itu dan dengan 30.000 penumpang diangkut dalam tahun pertamanya, lebih dari 50 komet dipesan.

KEKURANGAN DESAIN
http://kits.kitreview.com/images/fliegcometreviewr_box.jpg
Tanda pertama dari kekurangan dalam Comet datang pada 2 Mei 1953 ketika sebuah Comet Hancur setelah lepas-landas dari Kalkuta; kejatuhan pesawat lainnya (Januari dan April 1954) tanpa penyebab yang jelas menyebabkan seluruh armada tidak diterbangkan untuk investigasi. Hanya setelah sisa dari kecelakaan di Italia diinvestigasi ditemukan pada Februari 1955, seperti yang diperkirakan, masalahnya adalah fatig logam. Setelah ribuan kenaikan dan penurunan yang bertekanan, logam "fuselage" yang tipis di sekitar jendelanya yang besar dan persegi mulai retak dan akhirnya menyebabkan dekompresi ledakan kabin dan kegagalan struktur yang parah.

Seluruh Comet yang tersisa dihancurkan atau dimodifikasi dengan jendela "rip-stop doublers" dan program untuk memproduksi sebuah Comet 2 dengan mesin Rolls-Royce Avon yang lebih bertenaga ditunda. Beberapa Comet 2 dimodifikasi lagi untuk memperbaiki masalah fatig dan menjalani tugas dalam RAF sebagai Comet C.2. Pesawat Comet tidak melayani penerbangan komersial sampai 1958, ketika Comet 4 yang lebih canggih diperkenalkan.

KECELAKAAN & GROUNDED
Pada 2 Mei 1953, Comet mengalami kecelakan di India. Pesawat tersebut jatuh dan memakan korban tewas sebanyak 43 orang. Kemudian kecelakaan berikutnya pada 10 Januari 1954 di Roma, Italia, Comet kembali jatuh dan memakan korban tewas sebanyak 35 orang. Terakhir sebelum sempat ditarik dari peredaran, Comet kembali jatuh di perairan Naples, Italia pada 8 April 1954.

Dalam masa grounded, penyelidikan intensif dilakukan terhadap struktur rangka Comet karena diduga kecelakaan ini terjadi akibat dekompresi mendadak yang terjadi pada badan Comet yang akibatnya dapat merobek seluruh kulit badan  pesawat. Untuk membuktikan teori ini maka de Havilland melakukan serangkaian tes dengan membungkus seluruh badan Comet dalam tangki air raksasa. Tangki tersebut kemudian diisi sejumlah air sehingga menimbulkan tekanan pada kulit dan struktur pesawat. Cara ini digunakan agar didapatkan keadaan yang sama seperti halnya ketika pesawat mengudara di ketinggian tertentu.

Akhirnya ditemukan bahwa bentuk bujursangkar pada jendela Comet yang menjadi penyebabnya. Bentuk semacam ini ternyata mengakibatkan struktur logam pada keempat sudut bingkai jendela tersebut cepat mengalami kelelahan metal (metal fatique). Selain itu sistem paku keling pada Comet juga disinyalir menjadi penyebab keretakan metal. Sehingga pada ketinggian tertentu kulit pembungkusnya mudah sekali robek sehingga pesawat akan mengalami dekompresi secara mendadak.

De Havilland Comet akhirnya didesain ulang secara menyeluruh, termasuk perubahan bentuk jendela dari semula bujursangkar menjadi bentuk oval, menambah ketebalan kulit pembungkus badan pesawat dan juga memperbaiki sistem sambungan antar kulit. Seluruh perbaikan ini menyebabkan Comet baru dapat kembali mengudara pada tahun 1958 dan sayangnya Amerika saat itu telah memiliki Boeing 707 dan DC-8. Reputasi buruk De Havilland Comet tidak dapat mengembalikan citra Comet bagi maskapai penerbangan dan tahun 1964 adalah tahun terakhir De Havilland Comet diproduksi bagi kepentingan komersial.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5e/BEA_de_Havilland_DH-106_Comet_4B_Berlin.jpg/300px-BEA_de_Havilland_DH-106_Comet_4B_Berlin.jpg
De Havilland Comet yang masih digunakan
De Havilland Comet masih digunakan oleh RAF dan diproduksi oleh Hawker Siddeley dengan nama Hawker Siddeley Nimrod. RAF menggunakan Nimrod bagi kepentingan patroli maritim Inggris raya dan dengan penggunaan serangkaian teknologi terbaru Nimrod diharapkan dapat digunakan sampai tahun 2020.


Berbagai Sumber

Pertempuran Biak


Pertempuran Biak merupakan bagian dari kampanye Niugini dalam Perang Dunia II. Pertempuran tersebut dilakukan oleh Angkatan Darat Amerika Serikat dan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dari 27 Mei 1994 hingga 20 Juni 1994. Di sinilah untuk pertama kalinya pihak Jepang menggunakan taktik penyergapan dalam skala besar di Perang Dunia II.

LATAR BELAKANG
Schouten Islands (IN) Topography.png
Pulau Biak
Pulau Biak mendominasi jalan masuk ke Teluk Geelvink, di dekat ujung barat Pulau Papua. Pulau tersebut dipertahankan oleh 11.000 pasukan Jepang di bawah komando Kolonel Kuzume Naoyuki. Karena ia tak menyukai doktrin penghancuran musuh di tepi perairan, ia memutuskan untuk membiarkan pihak Amerika mendarat ke pantai tanpa perlawanan, supaya mereka tanpa curiga melenggang masuk ke dalam perangkap yang telah ia persiapkan bagi mereka. Keputusan ini menyebabkan kawasan di sekitar lapangan udara yang vital di pulau tersebut diubah menjadi jaringan bawah tanah militer penuh gua dan kubu pertahanan, yang berisi infantri, senapan otomatis, artileri, regu-regu mortir, dan tank-tank ringan Tipe 95 Ha-Go. Naoyuki juga membekali posisi-posisi tersebut dengan amunisi, makanan dan minuman dalam jumlah berlimpah agar bisa bertahan selama berbulan-bulan. Di Biak, air minum tak tersedia dalam jumlah banyak, sehingga di sana hawa panas dan kelembapan akan mengakibatkan korban dalam jumlah yang hampir sama dengan peluru musuh.
Dari satu pesan bertanggal 4 Mei 1944 yang berhasil disadap, diketahui bahwa intelijen Komando Pasukan Area ke-2 AD Kekaisaran Jepang menyangka pendaratan Sekutu berikutnya akan dilakukan di Biak, sehingga pendaratan pendahuluan dilakukan terhadap Wakde pada tanggal 17 Mei, dalam perjalanan menuju Biak. Di sana sebuah lapangan terbang yang lebih kecil tersedia, yang bisa digunakan sebagai pangkalan garis depan hingga lapangan-lapangan terbang di Biak siap digunakan. Walaupun prakiraan intelijen memperkirakan pasukan musuh berjumlah sekitar 5000 orang, sebuah pesan yang berhasil disadap pada akhir bulan April mengungkapkan jumlah pasukan berdasarkan kebutuhan ransum sekitar 10.800 orang, walau angka tersebut dianggap mewakili proyeksi kekuatan, dan bukan kekuatan riil saat ini.

PERTEMPURAN
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/88/Assault_on_Biak.jpg/250px-Assault_on_Biak.jpg
Serangan Terhadap Pulau Biak
Resimen Infantri ke-162 dari Divisi ke-41 AD AS mendarat di Biak pada 27 Mei 1944, dan, pada pukul 5.15 sore, berhasil mendaratkan 12.000 orang pasukan, dengan 12 tank Sherman, 29 artileri lapangan, 500 kendaraan dan 2400 ton suplai. Salah satu suplai tersebut adalah es krim, yang langsung dibagikan di hari pertama. Daratan pulau tersebut adalah karang yang keras, sehingga mesti diledakkan dengan dinamit supaya buldozer bisa bekerja di sana dengan lancer.
Mereka bergerak masuk ke dalam pulau dengan penuh percaya diri dalam keyakinan hanya akan menghadapi perlawanan ringan, hingga mereka mencapai lapangan terbang yang vital itu. Kemudian, dari dataran sekitar dan tepian-tepian puncak perbukitan di atas, muncul badai peluru dan proyektil meriam yang membuat mereka berlindung tanpa bisa kemana-mana. Setelah malam tiba, barulah traktor-traktor amfibi berhasil mengeluarkan mereka dari jebakan tersebut. Pada hari berikutnya, mereka mencapai lapangan Mokmer, dengan sasaran lapangan Sorido. Pasukan Jepang tetap bertahan, dan menunda jatuhnya lapangan Mokmer selama sepuluh hari.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/97/TankshermanM4.jpg/250px-TankshermanM4.jpg
Tank M4 Sherman
Karena penundaan tersebut, markas Komando AU ke-5 di Nadzab mengatur agar Pulau Owi, yang berada di sebelah selatan pantai Bosnik (hanya beberapa kilometer sebelah timur Mokmer), direbut pada tanggal 2 Juni, lalu membangun dua landasan sepanjang 7.000 kaki di sana. Sebuah detasemen garis depan ditempatkan di sana bersama 15.000 orang pasukan, satu grup pesawat pengebom, dua grup pesawat pemburu, dan satu grup pesawat pemburu malam hari P-61 "Black Widow."
Dari sebuah sadapan, Unit Nirkabel ke-1 RAAF mendapat informasi bahwa Letjen Takuzo Numata, Kepala Staf Komando Pasukan Area ke-2 AD sedang berada di pulau tersebut dalam sebuah tur inspeksi. Pangkatnya lebih tinggi dari Kolonel Kuzume, dan mengirim pesan yang memohon agar dirinya dievakuasi. Dirinya dievakuasi oleh pesawat amfibi dari Teluk Korin pada tanggal 20 Juni. Pada tanggal 22 Juni, Kolonel Kuzume membakar panji-panji kesatuan lalu melakukan hara kiri.

Karena Laksamana Toyoda membutuhkan landasan-landasan di Biak untuk menyerang Armada Pasifik AS, ia melancarkan Operasi Kon, upaya untuk menyelamatkan Biak. Sebuah serangan pada tanggal 8 Juni berhasil dibendung oleh kekuatan laut Amerika dan Australia. Serangan pertama pada tanggal 1 Juni dibatalkan ketika sebuah pesawat Jepang memberi laporan keliru yang menyatakan kehadiran sebuah kapal induk AS, dan serangan ketiga pada tanggal 13 Juni dialihkan ke utara, ke Laud Filipina untuk menyerang kapal-kapal induk Armada ke-5 AS; serangan ini mestinya mengikutsertakan kapal-kapal tempur super Jepang, Yamato dan Musashi.

Pasukan Amerika berhasil menembus pertahanan Jepang pada tanggal 22 Juni, di mana daerah pesisir dari Bosnik hingga Sorido berhasil direbut, termasuk tiga lapangan terbang di Sorido (4500 kaki), Borokoe (4500 kaki), dan Mokmer (8000 kaki). Masih tersisa sekitar 3.000 pasukan Jepang yang mencoba menggalang serangan balik penghabisan hingga 17 Agustus. [7] Bleakley mengenang bahwa dalam sebuah gubuk bambu berisi peralatan rekreasi Jepang, semacam PX atau toko khusus militer yang memuat "lusinan pasang sepatu skating" – "di sebuah pulau antah berantah di khatulistiwa!". Selama beberapa waktu ia menyimpan sepasang sebagai suvenir, dan berkata bahwa para prajurit Jepang diberitahu kalau mereka berada di sebuah pulau lepas pantai San Francisco, dan tak lama lagi akan menginvasi Amerika. Ia berada bersama Unit Nirkabel ke-1 RAAF, satu-satunya kesatuan Australia di pulau tersebut.

AKHIR PERTEMPURAN
Bagi pihak Amerika, perebutan Pulau Biak memakan korban 474 orang tewas dan 2.428 luka-luka. Pihak Jepang kehilangan 6.000 orang tewas dan 450 orang tertawan, sehingga lebih dari 4.000 orang lainnya tak diketahui nasibnya atau hilang dalam tugas dan diasumsikan tewas. Artinya, mereka dimusnahkan. Setelah itu, tak ada lagi serangan Banzai tanpa pikir panjang dan penuh emosi, yang biasanya membuat kekuatan Jepang terkuras hingga pupus. Biak merupakan pertempuran yang melelahkan dan alot. Taktik penyergapan atau menunda-nunda ini diulangi di Pertempuran Peleliu, Pertempuran Okinawa, dan Pertempuran Iwo Jima, yang sebelumnya diperkirakan Korps Marinir AS dan AD AS bisa dimenangkan hanya dalam beberapa hari atau minggu saja, tapi justru berlanjut hingga berbulan-bulan, dengan kerugian yang sangat besar, bukan hanya karena menghabiskan waktu yang berharga, tapi juga jatuhnya korban jiwa dan peralatan yang jauh lebih berharga.

MONUMEN
Di pantai Paray, di antara desa Mokmer dan Bosnik, sekitar tujuh kilometer dari Biak Kota, terdapat sebuah monumen peringatan Perang Dunia II. Monumen ini dibangun pada tahun 1994 lewat kerjasama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang. Ada pula gua Jepang Binsari, yang terletak di Desa Sumberker, Samofa, sekitar lima kilometer dari Biak Kota.

Wikipedia.org

Kamis, 21 Juni 2012

ATD-X Shin-Shin, Pesawat Eksperimen Jepang


Pesawat ATD-X merupakan pesawat eksperimen berkemampuan siluman buatan Mitsubishi Heavy Industries yang nantinya akan digunakan oleh Japan Air Self-Defense Force. Mitsubishi ATD-X Shinshin adalah pesawat tempur baru generasi ke 5 yang mengunakan teknologi siluman. Pesawat ini sedang dibangun oleh Japanese Ministry of Defense Technical Research and Development Institute (TRDI) untuk kepentingan penelitian. Sedangkan nama ATD-X sendiri merupakan kepanjangan dari "Advanced Technology Demonstrator - X". Banyak yang mempercayai bahwa pesawat ATD-X ini merupakan pesawat tempur siluman pertama buatan Jepang. Sedangkan nama pesawat ini dalam bahasa Jepang adalah 心神 (shin-shin) yan berarti suatu pemikiran (one's mind). Pesawat ATD-X ini direncanakan terbang untuk pertama kali pada tahun 2014 akan tetapi besar kemunkinan penerbanan pertama akan mundur waktu pelaksanaannya dan palin lambat penerbangan pertama akan dilakukan tanggal 14 Juni 2016.

Pengembangan
Prototipe ATD-X
 Pesawat ini dibuat karena keinginan Jepang untuk mengganti pesawat tempurnya yang sudah lama dipakai. Untuk usaha penggantian pesawat tempur ini Jepang berusaha mendekati Washington untuk melakukan penjajakan pembelian pesawat siluman buatan Amerika Serikat yaitu F-22 Raptor. Akan tetapi pihak Konggres Amerika Serikat telah berulang kali melarang penjualan pesawat F-22 Raptor ke luar negara Amerika Serikat dalam usaha pihak Amerika Serikat untuk melindungi teknologi rahasia yang sangat maju yang mereka miliki. Dengan penolakan ini mendorong Jepang untuk membangun pesawat tempur modern sendiri yang dilengkapi dengan kemampuan siluman dan sistem-sistem lain yang sangat maju. Model pesawat ATD-X ShinShin telah melampaui uji darat berupa uji radar cross section di Perancis tahun 2005. Lalu dengan rasio kontrol 1/5 skala model telah menjalani uji terbang pertama pada tahun 2006 untuk mendapatkan data mengenai kemampuan dari sudut serang dan mencoba menguji peralatan sensor baru serta self-repairing flight control systems.

Setelah lolos dari uji pertama ini keputusan diambil pada tahun 2007 untuk mendorong proyek multi milyar yen yang dijangka dapat ditempuh dalam waktu 10 tahun untuk sampai tahap produksi pesawat yaitu pada tahun 2017. Dan pada tahun 2007 pula proyek pembuatan pesawat ATD-X ShinShin akan melibatkan perusahaan besar dari Amrika Serikat yaitu Lockheed Martin.

Desain 
Desai ATD-X
Desain pesawat ATD-X ShinShin akan menggunakan teknologi pesawat demontrator dan merupakan perpaduan pesawat tempur enerasi ke 4 dan ke 5 dari Amerika Serikat, terutama dari pesawat F-22 Raptor. Daya dorong pesawat ATD-X diatur dengan menggunakan 3 buah dayung pada setiap ujung mesin seperti yang terdapat pada pesawat Rockwell X-31. Fitur lain yang terdapat pada pesawat ATD-X ini adalah memiliki teknologi fly-by-optics untuk sistem kontrol penerbangan yang menggantikan optical fibers. Dengan teknologi ini transfer data bisa lebih cepat dan kebal dari pengaruh electromagnetic disturbance.
Untuk radar mengunakan teknologi active electronically scanned array (AESA) yang disebut dengan 'Multifunction RF Sensor', yang memiliki kemampuan electronic countermeasures (ECM), electronic support measures (ESM), fungsi komunikasi, dan juga mungkin untuk kemampuan senjata gelombang mikro.
Fitur yang lebih maju memiliki kemampuan yang disebut dengan 'Self Repairing Flight Control Capability' yang memungkinkan pesawat mendeteksi kegagalan sistem atau bahaya pada flight control surfaces.
Japan Air Self-Defense Force dilaporkan meminta informasi penggunaan mesin dengan daya dorong antara 10 sd 20 ribu pound untuk digunakan pada pesawat prototipe sampai menjadi pesawat tempur dan mesin dibuat oleh Ishikawajima-Harima Heavy Industries. 

Spesifikasi ATD-X
Awak: 1 orang.
Panjang: 14.174 meter (46.50 kaki)
Lebar sayap: 9.099 meter (29.85 kaki)
Tinggi: 4.514 meter (14.80 kaki)
Bobot maksimum lepas landas: 8 ton (17.636 pound)
Mesin: 2 × IHI XF5-1
Dorongan kering: masing-masing 10 ton (22.046 pound)
Dorongan dengan pembakar lanjut: masing-masing 15 ton (33.069 pound)

F-20 Tiger Shark


F-20 Tigershark adalah pesawat tempur hasil pengembangan dari F-5 Tiger II buatan Northrop Grumman, Amerika Serikat. Walaupun mengusung teknologi yang cukup maju untuk kebutuhan pesawat tempur abad ke-21 dan telah dipertontonkan kehebatannya dalam berbagai pameran di dunia termasuk pameran kedirgantaraan Farnborough di Inggris, pesawat ini dihentikan produksinya karena tidak ada satupun pesawatnya yang laku terjual, meski sebenarnya ditujukan untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger II yang dioperasikan oleh negara-negara dunia ketiga yang umumnya memiliki anggaran militer terbatas.

Penyebabnya adalah kebijakan pemerintah Amerika Serikat sendiri yang memang tidak berminat mengoperasikan pesawat ini dalam jajaran armadanya, selain itu pemerintah Ronald Reagan sendiri tidak mengizinkan penjualan pesawat tersebut ke negara yang saat itu ditujukan sebagai pembeli potensial yakni India dan Taiwan, alasannya adalah pesawat itu terlalu bagus.

Dengan kemampuannya yang cukup modern, bila pembelinya Taiwan, akan membuat buruknya hubungan Amerika Serikat-RRC, sementara bila pembelinya adalah India, maka dikhawatirkan akan jatuhnya teknologi maju yang diterapkan pada pesawat tersebut ketangan Uni Soviet melalui jaringan spionasenya di India. Sementara Arab Saudi yang berminat membeli sejumlah 200 pesawat untuk meremajakan armadanya yang terdiri atas 200 pesawat F-5 Tiger II, mau membelinya jika pesawat itu juga masuk dalam jajaran operasional militer Amerika Serikat.

Miniatur F-5 Dan F-20
Pesawat tempur ini sebenarnya adalah pesawat yang relatif murah dalam harga dan pengoperasiannya dibandingkan pesawat-pesawat tempur mutakhir lainnya seperti F-4 dan F-16 yang juga ditujukan pada negara-negara sahabat Amerika Serikat. Dengan biaya untuk pengadaan enam pesawat F-4 Phantom, dapat digunakan untuk mengadakan 14 pesawat (satu skadron) F-20 Tigershark. Disebutkan juga biaya terbangnya hanya kurang dari 1000 dolar AS perjam. Bandingkan dengan F-16 yang dua kali lipatnya, bahkan Tornado yang memakan lebih dari tiga kali lipatnya.

Selain cukup murah dan mudah dalam perawatannya, F-20 juga memiliki waktu reaksi cukup cepat. Dalam tempo 2 menit 30 detik F-20 sudah berada 20 km dari pangkalannya dalam ketinggian 32000 feet dan mengunci pesawat musuh dalam radius 90 km dari pangkalannya.
Sosoknya yang tidak jauh beda dengan F-5 Tiger II, memiliki kemampuan melesat dengan dua kali kecepatan suara (Mach-2), dilengkapi sistem avionik dan teknologi propulsi, sistem kendali yang cukup modern serta kemudi yang semua ditangani secara elektrik (fly-by-wire) yang diadopsi juga oleh F-16.


Mesin
Uji Coba Mesin General Electric F404
Menggunakan satu mesin General Electric F-404 dengan diameter 88 cm dan berat 907 kg, yang juga diguanakan pada F/A 18 Hornet. Mesin ini berdaya dorong 60 persen lebih besar dari kedua mesin J-85-GE-21 yang digunakan F-5 Tiger II dengan daya dorong 10.000 lbs. Mesin ini dikenal irit bahan bakar dengan konsumsi 60% dari pemakaian bahan bakar yang digunakan oleh pesawat tempur berkecepatan Mach-2. Dengan bahan bakar yang sama, pesawat F-20 dapat melakukan dua sortie penerbangan dibandingkan dengan pesawat tempur yang dipakai dalam armada udara AS.

Bila dibandingkan dengan mesin GE-79 yang dioperasikan F-14 Tomcat, maka mesin ini memiliki 19.000 bagian lebih sedikit , kompresor dan turbin yang kecil dibandingkan mesin pertama. Mesin ini tidak mengalami tanda-tanda stall bila dioperasikan dan telah diujicoba oleh Angkatan Laut AS, termasuk ujicoba dalam menghadapi tekanan atau gaya gravitasi. Bisa dikatakan mesin F-20 sangat ringan, kuat dan berdaya dorong tinggi dan mudah dirawat.

Persenjataan
F-20 dilengkapi dengan dua kanon M-39 kaliber 20 mm dengan kecepatan tembak 1400 peluru/menit dengan cadangan 450 ikat amunisi. Selain itu dapat juga dipersenjatai dengan kanon Gatling GAU-8 Avenger seperti yang diaplikasikan pada A-10 Thunderbolt II yang teruji dalam perang dapat menghancurkan tank.
F-20 dilengkapi dengan rudal standar untuk pertempuran udara ke udara (Air to Air doghfight) AIM-9 Sidewinder serta rudal jarak jauh BVR (beyond visual range) AM-120 AMRAAM, rudal udara ke darat (Air Ground Missiles) AGM-65 maverick sebanyak empat rudal, serta berbagai macam bom standar seperti Bom Mk-82, smart bomb (bom pintar) serta GEPOD 30 mm (pod tambahan canon 30 mm diluar pesawat). Sementara untuk konfigurasi bantuan udara (Close Air Support) F-20 dapat membawa tujuh bom Mk-82, dua sidewinder dan dua tangki bahan bakar plus persenjataan lainnya.

Dengan kemampuan, ketangguhan dan mudahnya dalam operasional dan perawatan, F-20 Tigershark sebenarnya cukup mampu dioperasikan oleh negara negara maju lebih-lebih negara-negara dunia ketiga yang memiliki anggaran militer khususnya angkatan udara terbatas. Namun tidak adanya dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat, dengan sendirinya negara-negara dunia ketiga enggan untuk mengoperasikannya. Hal yang sering dialami oleh produsen persenjataan negara-negara Barat yang sering bertolak belakang dengan kebijakan politik pemerintahannya serta persaingan tidak sehat antar produsen senjata, sehingga hal yang ironis seperti persenjataan yang murah, mudah dan modern sering bernasib hanya sampai di tingkat ujicoba dan prototype saja.



Karakteristik umum
    Kru: 1 pilot
    Panjang: 47 ft 4 in
    Lebar sayap: 27 ft 11.9 in / 8.53 m; with wingtip missiles
    Tinggi: 13 ft 10 in
    Luas sayap: 200 ft²
    Bobot kosong: 13,150 lb
    Bobot terisi: 15,480 lb
    Bobot maksimum lepas landas: 27,500 lb
    Mesin: 1× General Electric F404-GE-100 turbofan, 17,000 lbf

Kinerja
    Laju maksimum: Mach 2+
    Radius tempur: 300 nmi ; for hi-lo-hi mission with 2 × 330 US gal (1,250 L) drop tanks
    Jarak jangkau ferri: 1,490 nmi ; with 3 × 330 US gal (1,250 L) drop tanks
    Batas tertinggi servis: 55,000 ft
    Laju panjat: 52,800 ft/min
    Beban sayap: 81.0 lb/ft²
    Dorongan/berat: 1.1

Persenjataan

    Senjata api: 2× 20 mm (0.79 in) Pontiac M39A2 cannons in the nose, 280 rounds each
    Hardpoint : Five external hardpoints dengan kapasitas 8,000 lb (3,600 kg) of bombs, missiles, rockets and drop tanks for extended range,
    Roket: 2× CRV7 rocket pods Or
    2 × LAU-10 rocket pods with 4 × Zuni 5 in (127 mm) rockets each Or
    2 × Matra rocket pods with 18× SNEB 68 mm rockets each
    Rudal: 2× AIM-9 Sidewinders on wingtip launch rails (similar to F-16 and F/A-18)
    AGM-65 Maverick air-to-surface missiles on hardpoints
    Bom: Various air-to-ground ordnance such as Mark 80 series of unguided iron bombs (including 3 kg and 14 kg practice bombs), CBU-24/49/52/58 cluster bomb munitions, M129 Leaflet bomb

USS Arizona (BB-39)


USS Arizona

USS Arizona (BB-39) adalah kapal tempur kelas Pennsylvania yang dibuat oleh dan untuk Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS). Kapal ini merupakan kapal ketiga yang dinamai dengan negara bagian Arizona, dan masuk dinas aktif pada tahun 1916.

USS Arizona memorial
Arizona bersama delapan kapal tempur lainnya, yang merupakan bagian dari Armada Pasifik AL AS, tengah berlabuh di Pearl Harbor sewaktu Jepang melancarkan serangan dadakannya pada tanggal 7 Desember 1941. Arizona terkena bom tepat pada gudang amunisinya sehingga meledak dan karam dengan 1.177 orang awaknya.

Karena Arizona tenggelam di perairan yang relatif dangkal, superstrukturnya tetap berada di atas permukaan air. Bagian ini kemudian dibongkar, namun lambungnya yang berada di bawah permukaan air dibiarkan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi awaknya yang gugur. Pada tanggal 30 Mei 1962, AS mendirikan USS Arizona Memorial tepat di atas bangkai kapal Arizona, untuk penghormatan kepada mereka yang gugur pada serangan tanggal 7 Desember 1941 tersebut.

Nama:                                                 USS Arizona
Asal nama:                                          Arizona
Dipesan:                                              4 March 1913
Pembangun:                                         Brooklyn Navy Yard
Biaya:                                                  $16,000,000
Dihentikan:                                          16 Maret 1914
Diluncurkan:                                        19 Juni 1915
Mulai berlayar:                                     17 Oktober 1916
Dipensiunkan:                                      29 Desember 1941
Mogok:                                               1 Desember 1942
Identifikasi:                                           Nomor lambung BB-39
Nasib:                                                  Tenggelam saat serangan Jepang ke Pearl Harbor, 7 Desember 1941

Kelas dan jenis:                                   kapal tempur kelas Pennsylvania
Displacement:                                     29.626 ton (standar)
Panjang:                                              608 kaki (185 m)
Lebar:                                                  97 kaki (30 m)
Draft:                                                  29 ft 3 in (8.9 m)
Tenaga:                                               29.366 shp (saat tes)
Pendorong:                                         4 shafts
4 set turbin uap Parsons
12 Babcock & Wilcox water-tube boilers
Kecepatan:                                          21 knot (39 km/h; 24 mph)
Jangkauan:                                          8.000 nmi (15,000 km) dengan kecepatan 10 knot (19 km/h; 12 mph)
Perlengkapan:                                     55 perwira and 860 pelaut


Senjata:                                              
4 × 3 meriam 14-inci (360 mm), kaliber 45
22 × 1 meriam 5-inci (130 mm), kaliber 51
4 × 1 meriam anti serangan udara 3-inci (76 mm), kaliber 50
2 × pelontar torpedo 21-inci (533 mm)
Pelindung:                                           Belt: 13,5-8 inci (343-203 mm)
Bulkhead: 13-8 inci (330-203 mm)
Barbette: 13 inci (330 mm)
Turrets: 18 inci (457 mm)
Dek: 5 inci (127 mm)
Conning tower: 16-14 inci (406-356 mm)