Senin, 02 Juli 2012
Gloster Meteor, Veteran Perang Dunia ke-2
Tag
ANGKATAN UDARA
Gloster Meteor adalah pesawat jet tempur pertama
Inggris dan merupakan satu-satunya pesawat tempur dengan mesin jet yang
digunakan oleh pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II. Walaupun sudah digunakan
sejak Perang Dunia II, namun pesawat tempur ini dikembangkan menjadi berbagai
macam varian setelah Perang Dunia II selesai. Produksi Meteor sendiri mencapai
3.947 unit dan dibuat setidaknya dalam 21 varian.
Meteor dirancang oleh Sir Frank Whittle dan
diproduksi oleh Gloster Aircraft Company, walaupun kemudian pesawat ini juga
ikut diproduksi oleh Armstrong Whitworth. Pesawat ini adalah pesawat jet tempur
pertama yang digunakan secara operasional, yaitu ketika mulai dioperasikan oleh
Skadron No.616 Angkatan Udara Inggris pada tanggal 12 Juli 1944. Pengoperasian
Meteor ini hanya berselang sembilan hari sebelum Messerchmitt Me-262 digunakan
secara operasional oleh Angkatan Udara Jerman.
Walaupun sama-sama merupakan jet tempur yang
digunakan dalam Perang Dunia II, namun Meteor dan Me-262 tidak pernah saling
bertemu dalam pertempuran udara. RAF sendiri pada awalnya lebih banyak
menugaskan skadron-skadron Meteor untuk menghadapi serangan roket jarak jauh
V-1 dan melarang operasional Meteor di wilayah daratan Eropa dengan alasan
untuk menghindari adanya Meteor yang tertembak jatuh sehingga dapat dipelajari
oleh Jerman. Meteor sendiri baru digunakan di wilayah Eropa Daratan pada bulan
Januari 1945, setelah supremasi udara benar-benar dikuasai oleh pasukan Sekutu;
namun itu pun terbatas pada misi-misi pengintaian bersenjata dan ground attack.
Selama Perang Dunia II, Meteor berhasil menembak jatuh 14 roket V-1 dan
menghancurkan 46 pesawat Jerman di darat.
Setelah Perang Dunia II, Meteor dikembangkan lebih
lanjut menjadi banyak varian dan juga diekspor ke sejumlah negara. Salah satu
negara yang kemudian membeli jet tempur ini adalah Australia yang membeli
varian Metero F.8. Meteor F.8 milik Angkatan Udara Australia ini kemudian ikut
bertempur dalam Perang Korea. Dalam Perang Korea, Meteor lebih banyak
ditugaskan untuk misi-misi ground attack mengingat kemampuan pesawat ini tidak
sebanding dengan MiG-15 yang banyak digunakan oleh pasukan komunis. Walapun
demikian, Meteor Angkatan Udara Australia berhasil menembak jatuh enam MiG-15
di samping menghancurkan sekitar 3.500 bangunan dan 1.500 unit kendaraan
pasukan komunis. Namun Australia harus kehilangan 30 unit Meteor karena
berbagai sebab dalam perang tersebut, sebagian besar karena terkena tembakan
meriam anti serangan udara.
Selain Perang Dunia II dan Perang Korea, konflik
bersenjata lainnya yang melibatkan Meteor adalah perang Arab-Israel. Satu hal
unik dalam perang Arab-Israel adalah bahwa baik Angkatan Udara Mesir, Israel,
dan Suriah adalah sama-sama pengguna jet tempur Meteor. Pesawat tempur ini
bahkan sama-sama digunakan oleh Angkatan Udara Mesir dan Israel dalam Krisis
Suez tahun 1956, namun lebih banyak ditugaskan untuk misi-misi ground attack.
Setelah Krisis Suez tahun 1956, Mesir dan Suriah lebih mendekat kepada Uni
Soviet dan memperoleh persenjataan dalam jumlah besar dari Uni Soviet. AU Mesir
dan Suriah pun kemudian mempensiunkan Meteor mereka dan menggantinya dengan
MiG-15 dan MiG-17, sementara AU Israel tetap mengoperasikan Meteor sampai
dengan tahun 1961.
Pada masa-masa awal Perang Dingin, kekuatan utama
nighfighter Angkatan Udara Inggris adalah varian nightfighter dari pesawat
tempur de Havilland Mosquito yang merupakan peninggalan Perang Dunia II. Di
tahun 1948 sebenarnya Inggris sudah mulai mengembangkan Gloster Javelin yang
merupakan all weather interceptor, namun pengembangan Javelin ternyata
mengalami keterlambatan. Sebagai pengisi kekuatan sementara, RAF kemudian
memutuskan untuk menggunakan varian night fighter Meteor yang dikembangkan dari
varian pesawat latih berkursi ganda Meteor T.7. Namun Gloster Aircraft Company
ternyata tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi varian ini sehingga
produksi varian nighfighter dari Meteor dilakukan oleh perusahaan Armstrong
Whitworth.
Armstrong Whitworth membuat varian nightfighter
Meteor dalam empat versi, mulai dari Meteor NF.11 sampai dengan Meteor NF.14.
Meteor NF.11 dilengkapi dengan radar AI MK.10 yang merupakan pengembangan dari
radar Westinghouse SCR-720. Versi NF.11 sendiri kemudian dikembangkan menjadi
vesi NF.13 yang khusus digunanakan untuk medan perang tropis dan sempat
digunakan oleh Angkatan Udara Inggris dalam Krisis Suez tahun 1956.
Versi lainnya dari varian nightfighter Meteor adalah
Meteor NF.12 yang dilengkapi dengan radar APS-21 buatan Amerika Serikat dan Meteor
NF.14 yang merupakan varian terakhir dari pesawat tempur Meteor. Meteor NF.14
adalah Meteor terakhir yang digunakan oleh Angkatan Udara Inggris dan
dioperasikan sampai tahun 1961. Namun sebanyak empat belas unit NF.14 kemudian
dikonversi menjadi pesawat latih dan tetap digunakan sampai tahun 1965.
Selain Inggris, negara-negara pengguna Meteor
lainnya adalah Argentina, Australia, Belgia, Biafra (negara pecahan Nigeria
yang berdiri pada tahun 1967,namun pada tahun 1970 kembali dikuasai oleh
Nigeria), Brazil, Kanada, Denmark, Ekuador, Mesir, Perancis, Jerman Barat,
Israel, Belanda, Selandia Baru, Afrika Selatan, Swedia, dan Suriah. Angkatan
Udara Ekuador adalah pengguna terakhir Meteor dan baru mempensiunkan pesawat
tempur ini pada tahun 1980-an.
Specifications
Crew : 2
Powerplant : 2 x 15.6 kN Rolls-Royce Derwent 8
turbojet engines
Length : 14.78m
Wingspan : 13.11m
Height : 4.24m
Weight empty : 5,451 kg
Maximum take-off weight : 9,088 kg
Maximum speed : 933 km/h
Range : 1,480 km
Service ceiling : 12,192m
Armament : 4 x 20mm Hispano Mk.II cannons
Minggu, 01 Juli 2012
Rantis (Kendaraan Taktis) MAESA-PT44, Made in Indonesia
Tag
AGKATAN DARAT
Rantis (Kendaraan Taktis) MAESA PT44
asli buatan Indonesia .
Dirancang sebagai kendaraan angkut personel dan artileri carier yang mampu
bermanuver di segala medan .
Salah satu perancangnya, Mr. Sharsono, perancang ISS (Independent Suspension
System) dan rangka/ casis memberikan keterangan seputar rantis hasil
rancangannya.
Full Independent Suspension System

MAESA Series “O” adalah Truk Segala
Lapangan yang khusus di rancang dan dibuat untuk mengangkut barang dan pasukan.
Maesa memiliki daya angkut sebesar 4000 Kg. Sistem suspensi bebas yang dipasang
pada ke empat roda Maesa membuat kendaraan taktis ini dapat melaju 1.5 kali
lebih cepat dalam melintasi ladang dan jalanan rusak dibanding dengan kendaraan
yang serupa dalam bobot, tenaga dan besar ban yang sama namun menggunakan
sistim suspensi konvensional (Pegas daun dan Rigid Axel).
Rongga dibawah truk sangat luas dan
tinggi berkat penggunaan sistim suspensi bebas, berbeda dengan truk yang
menggunakan sistim suspensi konvensional dimana gandarnya menonjol keluar
dibawah kendaraan, mengurangi keleluasaan bergerak di luar jalan atau dijalan
yang rusak karena rawan terhadap benturan dengan batu-batu atau benda-benda
besar yang merintangi jalan.
Bak pengangkut barang dilengkapi
dengan bangku duduk yang terbuat dari pilihan besi atau kayu keras sebagai
tempat duduk pasukan beserta perlengkapannya. Bagian atas bak barang dilengkapi
dengan kerangka besi kokoh dan tertutup terpal untuk melindungi penumpang dari
hujan dan teriik matahari.
Sistim Suspensi Bebas buatan Pacific Technology IAD.
Sistim suspensi bebas buatan Pacific
Technology IAD ini sudah lama dikenal di dunia dan dianggap unggul. Konfigurasi
yang terencana dan sangat maju telah banyak meredam getaran dan goncangan yang
ditimbulkan oleh jalanan, menciptakan tidak hanya stabilitas kendaraan, tetapi
juga kenyamanan pengendaranya.
Sasis sengaja dibuat sekaku mungkin
untuk menghilangkan puntiran pada sasis, dan dikombinasikan dengan tingginya
kelenturan suspensi yang bergerak masing-masing secara terpisah maka Maesa
berhasil menciptakan performa kendaraan yang sangat baik dalam menjelajahi medan jalan yang sangat
buruk.
Standard kelenturan suspensi, adalah
kemampuan suspensi untuk bergerak keatas dan kebawah. Sistim suspensi bebas
buatan Pacific Technology memiliki standard kelenturan sebesar 250mm.
Namun Maesa telah dilengkapi dengan
sistim suspensi berstandard 300mm, dan sebagai akibatnya, kendaraan jadi lebih
mampu meredam semua kejutan-kejutan yang dilemparkan jalanan sambil kendaraan
tetap dapat mempertahankan kontak dengan jalanan secara optimal dan tetap
stabil, walaupun disaat kendaraan harus melakukan manuver yang berat.
Kendaraan bersuspensi bebas ini
memiliki keunggulan dalam traksi dan kecepatan dibanding dengan kendaraan
bersuspensi konvensional.
Kesimpulannya sistim suspensi bebas
pada Maesa 4X4 membuat penapakan roda kejalan menjadi lebih rekat, meningkatkan
traksi terutama disaat-saat kondisi rawan dan licin. Stabilitas kendaraan
sangat baik dan pengemudi dapat dengan mudah membaca situasi jalanan karena
sifat kendaraan yang mudah diprediksi.
Banyak kecelakaan terjadi dengan
truk yang menggunakan sistim suspensi konvensional, karena plintiran sasis
membuat pengemudi kurang cepat menyadari bahwa bagian belakang truk berada pada
posisi kritikal, dan telat melakukan tindakan koreksi ketika menyadarinya.
Dengan sistim suspensi bebas dan chassis kaku, plintiran sasis yang berbahaya bagi keamanan kendaraan berhasil
dihilangkan.
Stabilitas Maesa sangat tinggi dalam
kelasnya karena pusat gravitasi yang rendah dan jarak kaki yang cukup lebar.
Penggunaan Independent suspension axel membuat rongga bawah kendaraan menjadi
lebih datar, mengurangi coefficient drag sebesar 10% dibanding truk dengan
suspensi dan axel konvensional. Datarnya dasar kendaraan juga membantu
mengurangi turbulent angin yang dapat mengganggu stabilitas kendaraan pada
kecepatan tinggi.
Kekakuan sasis dan body yang sangat
tinggi telah pula membantu mengurangi getaran mesin di dalam kabin. Tingkat
kekakuan sasis yang terbuat dari bahan baja berdaya tahan tinggi - dipadu
desain dari frame yang kokoh pada suspensi dan axel, memberikan kekuatan
sekaligus performa lincah.
Stabil, responsif dan ringkas adalah tujuan arsitektur
suspensi Maesa PT44.
Suspensi depan Double wishbone
double coil over shock di andalkan karena responsif, stabil dan terbukti
berhasil mengurangi getaran mesin serta jalanan secara efektif. Suspensi
belakang terbuat dari bahan dan sistim yang sama, memungkinkan terciptanya
ruang kargo belakang dengan lantai yang rata dan lapang serta tumpakan yang nyaman,
sangat ideal untuk mengangkut pasukan, dan barang-barang yang tidak tahan
banting, seperti mesiu, peralatan laboratorium dan electronics.
Historical Battle of Iwo Jima
Tag
HISTORY
Pertempuran Iwo Jima
terjadi antara 19 Februari - 26 Maret 1945, (dengan kode sandi Operasi
Detasemen) adalah pertempuran di mana Amerika Serikat bertujuan merebut Iwo
Jima dari Jepang. Invasi AS memiliki misi merebut dua lapangan udara di Iwo Jima . Dalam pertempuran tersebut, Amerika Serikat
berhasil merebut Iwo Jima , termasuk pangkalan
udara yang ada di pulau milik Jepang tersebut.
Perang ini disebut sebagai perang tersengit dan paling
berdarah di arena Perang Dunia II. Dari 22.000 orang tentara Jepang yang
bertahan, hanya 300 orang yang tertangkap hidup secara berangsur, termasuk 3
orang yang baru tertangkap tahun 1951, 6 tahun setelah perang berakhir. Korban
di pihak Sekutu pun tidak kecil. Dari 70.000 orang tentara yang terlibat
langsung dalam operasi ini, 6.800 orang gugur (data resmi pihak Sekutu) dan
lebih dari 19.000 orang luka berat dan ringan.
Operasi Detasemen ini merupakan operasi dengan
korban terbesar di pihak AS. Korban disini lebih besar daripada jumlah korban
tewas dalam Pertempuran Atol Tarawa. Korban luka-luka di Pertempuran Atol
Tarawa mencapai 22.000 prajurit. Sengitnya pertempuran ini juga ditunjukkan
dari jumlah Medali Kehormatan, penghargaan tertinggi dari pemerintah AS untuk
prajurit yang dianggap berjasa dalam perang. Dari jumlah 82 medali yang
dibagikan untuk semua Marinir yang telibat Perang Dunia II, 28 diantaranya diberikan
untuk prajurit yang terlibat di front Iwo Jima
ini.
| Raising Flag on iwo Jima |
Pertempuran ini terkenal dengan sebuah foto yang
menggambarkan sejumlah tentara Amerika yang sedang menegakkan bendera Amerika
Serikat di puncak Gunung Suribachi saat pertempuran berlangsung. Foto tersebut
menjadi sebuah foto yang monumental bagi negara Amerika mengenai peperangan di Iwo Jima . Foto tersebut diproduksi oleh berbagai media massa di Amerika.
Penduduk Amerika seakan tidak pernah bosan karenanya. Roosevelt ,
presiden Amerika pada saat itu, melihat hal itu sebagai sebuah ide yang tepat
untuk tema tur penggalangan dana yang akan dilakukan (bond tour). Tour tersebut
berhasil menggalang dana sebesar 24 miliar dolar (pada tahun 1945) yang
merupakan penggalangan dana terbesar dalam sejarah Amerika.
ARTI
PENTING IWO JIMA
| Gunung Suribachi |
Letak pulau
PERSIAPAN
Strategi Sebelum Pendaratan
| Pendaratan pasukan Amerika di Iwo Jima |
Untuk
mencegah gangguan dari pesawat udara Jepang, diseranglah Tokyo tiga hari
sebelum serangan Iwo 16 Februari 1945 ini di bawah pimpinan Spruance, dan
satuan tugas dengan kapal-kapal induk di bawah Mitscher, bernama Task Force 58.
Pada titik 120 mil dari Tokyo ,
dilepaslah pesawat untuk menyerang sasaran utama, pabrik pesawat terbang
Jepang.
Serangan
ini berlangsung beberapa hari, sehingga tujuan lain pun tercapai: selama
pendaratan Sekutu di Iwo (600 mil dari Tokyo ),
tidak ada serangan dari pesawat udara Jepang. Laut dan udara di sekitar Iwo dikuasai Sekutu.
Tinggal pertempuran di daratan pulau Iwo Jima ,
menghadapi the most formidable defended eight square miles (delapan mil yang
paling hebat dipertahankan di Pasifik).
Benteng Kokoh Iwo Jima
Iwo Jima adalah pulau gunung api yang baru muncul dari laut belum
sampai 90 tahun. Terdapat Gunung Suribachi, yang masih terdapat lubang-lubang
yang mengeluarkan uap, tanda bahwa pulau ini masih aktif. Di sebelah tengah dan
utara terdapat jurang-jurang dalam, batu karang yang tinggi – satu pulau yang
ideal untuk dipertahankan. Jenderal Kuribayashi memerintahkan para insinyurnya
mendirikan benteng-benteng di bawah tanah, di dalam gunung Iwo
Jima . Terowongan bawah tanah sepanjang 5.000 meter digali Jepang,
yang satu sama lain berhubungan (seperti jaring laba-laba).
| Pesawat B-29 |
Jam 08:59, 30.000 Marinir dari 3rd, 4th, and 5th Marine Divisions mendarat di pantai
| USS New York |
Dan lebih buruk lagi bunker-bunker itu memiliki semacam terowongan yang berhubungan satu dengan yang lain. Jadi saat satu bunker berhasil dibersihkan dengan flamethrower atau granat, tentara Jepang yang lain segera mengisi bunker itu.
Prajurit yang maju merangkak, mungkin selamat dari tembakan senapan mesin, tapi tidak terhadap peluru dan pecahan mortir. Dan mortir yang di gunakan Jepang di Iwo adalah mortir raksasa. Besar diameternya 320 mm, mortir terbesar yang pernah digunakan di
Marinir juga menggunakan delapan tank M4A3R3 Sherman dan dipersenjatai dengan Navy Mark I flame thrower ("Ronson" atau Zippo Tanks) untuk membersihkan pertahanan Jepang. Tank ini terbukti efektif, lapisan bajanya dapat melindungi awak tank dari senapan mesin Jepang, terkecuali meriam berat. Sedangkan di langit, pesawat-pesawat P-51 Mustang menembaki daerah-daerah yang dicurigai sebagai bunker Jepang.
| Jendral Kuribayashi |
Salah satu pesan Jendral Kuribayashi kepada tentara Jepang di
We shall defend this island with all our strength to the end.
We shall fling ourselves against the enemy tanks clutching explosives to destroy them.
We shall slaughter the enemy, dashing in among them to kill them.
Every one of our shots shall be on target and kill the enemy.
We shall not die until we have killed ten of the enemy.
We shall continue to harass the enemy with guerrilla tactics even if only one of us remains alive.
Akibat pertempuran
Di Iwo ini pasukan Sekutu yang mati 550 orang, tapi
yang luka 16.000 orang. Mungkin kita menganggap jumlah yang mati saja yang
penting, karena luka bisa sembuh. Tapi dengan luka yang seperti dijelaskan
diatas akibat mortir 320 mm, maka dapatlah dibayangkan apa yang terjadi.
Inilah perang dalam bentuk hebat. Tapi yang paling
hebat ialah orang yang menjadi gila karena suara dentuman, ledakan, hujan
peluru artileri, mortir, senapan mesin, dan dinamit. Serdadu yang karena “senewen”
menjerit-jerit, dan berontak-rontak di atas usungan di mana dia diikat. Luka
tubuhnya mengerikan, tapi jiwa yang robek karena peperangan, adalah war at its
worst, perang dalam bentuk sehebat-hebatnya. Keith Weeler, wartawan Chicago
Times bilang: There’s more hell in there than I’ve seen in the rest of this war
put together. “Iwo Jima seperti neraka, lebih hebat daripada semua pengalaman
saya selama peperangan ini digabung menjadi satu.”
Senjata yang paling ditakuti Jepang adalah penyembur
api (flamethrower) merek Ronson. Tetapi pasukan dengan penyembur api itu tidak
bisa berbuat banyak kalau sasaran masih jauh. Bila maju sendirian, maka akan
dihadang hujan tembakan. Maka digunakan tank bulldozer, sebuah kendaraan
berlapis baja, yang meratakan jalan bagi barisan penyemprot api. Tapi
Kuribayashi dengan cepat pula mengubah taktiknya. Kemudian semua peluru.
Ditujukan. Kepada tank buldozer itu.
Tetapi bagaimanapun kuat dan cerdiknya Kuribayashi
dengan benteng dan orang-orangnya, kalau laut dan udara dikuaai musuh, dan bala
bantuan tidak bisa didatangkan, benteng itu akhirnya harus jatuh juga.
Harga Mahal Yang Harus Dibayar
Lebih dari 20.000 marinir Amerika yang mati dan luka.
Terlalu mahalkah untuk mendapatkan Iwo Jima? Jawab mereka: tidak. Sampai akhir
peperangan, 2.251 pesawat B29 mendarat di Iwo. Sebagian besar dari ini akan
lenyap, kalau Iwo tidak ada. Tiap B-29 itu mempunyai anak buah sebanyak 11
orang, sehingga jumlahnya yang mendarat 24.761 orang, hampir sama dengan 22.082
marinir Amerika yang mati dan luka ketika merebut Iwo . Menurut Amerika korban
itu seimbang dengan nilai Iwo sebagai pangkalan.
Itulah perang, di mana prestasi manusia antara lain terukur
dari berapa nyawa yang dicabut dan darah yang ditumpahkan.
Sumber : www.indowebster.web.id
www.kaskus.co.id
Wikipedia.org
dainipponjepang.blogspot.com
gadingmahendradata.wordpress.com
www.kompasiana.com/jayakardi
De Havilland Comet, Pesawat Jet Komersial Pertama
Tag
ANGKATAN UDARA
Pada masa PD II dan sesudahnya, de Havilland telah
sukses dalam mengembangkan dan memproduksi de Havilland Mosquito, jenis pesawat
fighter bomber yang terlibat dalam berbagai operasi udara termasuk Pasifik dan
Mediterania. De Havilland Mosquito terkenal dengan sebutan The Wooden Wonder
atau The Timber Terror, karena Mosquito seluruhnya terbuat dari bahan plywood.
Berbeda dari Mosquito, de Havilland Comet dibangun
dari bahan logam alloy dan sambungannya direkatkan oleh senyawa Redhux dengan
tambahan paku keling (rivet punch). Desainnya menganut konsep low wing
cantilever monoplane dengan 4 buah mesin jet yang dipasang pada sayap.
SEJARAH
| Penerbangan Perdana |
Perancangan dimulai pada 1946 dibawah pengawasan
Ronald Bishop dengan keinginan untuk memiliki pesawat komersial pada 1952. DH 106
Comet terbang pertama kali pada 27 Juli 1949. Rancangannya mirip dengan pesawat
lainnya kecuali empat mesin turbojet de Havilland Ghost 50 Mk1 dipasang di
bawah sayap, berpasangan di dekat "fuselage". Pesawat ini menjalani
pengetesan dan perbaikan selama tiga tahun dan melakukan penerbangan komersial
pertama dilakukan pada 22 Januari 1952 dengan BOAC. Pesawat ini terbukti
terbang dua kali lebih cepat dari pesawat lainnya saat itu dan dengan 30.000
penumpang diangkut dalam tahun pertamanya, lebih dari 50 komet dipesan.
KEKURANGAN
DESAIN
Tanda pertama dari kekurangan dalam Comet datang
pada 2 Mei 1953 ketika sebuah Comet Hancur setelah lepas-landas dari Kalkuta;
kejatuhan pesawat lainnya (Januari dan April 1954) tanpa penyebab yang jelas
menyebabkan seluruh armada tidak diterbangkan untuk investigasi. Hanya setelah
sisa dari kecelakaan di Italia diinvestigasi ditemukan pada Februari 1955,
seperti yang diperkirakan, masalahnya adalah fatig logam. Setelah ribuan
kenaikan dan penurunan yang bertekanan, logam "fuselage" yang tipis
di sekitar jendelanya yang besar dan persegi mulai retak dan akhirnya
menyebabkan dekompresi ledakan kabin dan kegagalan struktur yang parah.
Seluruh Comet yang tersisa dihancurkan atau
dimodifikasi dengan jendela "rip-stop doublers" dan program untuk
memproduksi sebuah Comet 2 dengan mesin Rolls-Royce Avon yang lebih bertenaga
ditunda. Beberapa Comet 2 dimodifikasi lagi untuk memperbaiki masalah fatig dan
menjalani tugas dalam RAF sebagai Comet C.2. Pesawat Comet tidak melayani penerbangan
komersial sampai 1958, ketika Comet 4 yang lebih canggih diperkenalkan.
KECELAKAAN
& GROUNDED
Pada 2 Mei 1953, Comet mengalami kecelakan di India.
Pesawat tersebut jatuh dan memakan korban tewas sebanyak 43 orang. Kemudian
kecelakaan berikutnya pada 10 Januari 1954 di Roma, Italia, Comet kembali jatuh
dan memakan korban tewas sebanyak 35 orang. Terakhir sebelum sempat ditarik
dari peredaran, Comet kembali jatuh di perairan Naples, Italia pada 8 April
1954.
Dalam masa grounded, penyelidikan intensif dilakukan
terhadap struktur rangka Comet karena diduga kecelakaan ini terjadi akibat
dekompresi mendadak yang terjadi pada badan Comet yang akibatnya dapat merobek
seluruh kulit badan pesawat. Untuk
membuktikan teori ini maka de Havilland melakukan serangkaian tes dengan
membungkus seluruh badan Comet dalam tangki air raksasa. Tangki tersebut
kemudian diisi sejumlah air sehingga menimbulkan tekanan pada kulit dan
struktur pesawat. Cara ini digunakan agar didapatkan keadaan yang sama seperti
halnya ketika pesawat mengudara di ketinggian tertentu.
Akhirnya ditemukan bahwa bentuk bujursangkar pada
jendela Comet yang menjadi penyebabnya. Bentuk semacam ini ternyata
mengakibatkan struktur logam pada keempat sudut bingkai jendela tersebut cepat
mengalami kelelahan metal (metal fatique). Selain itu sistem paku keling pada
Comet juga disinyalir menjadi penyebab keretakan metal. Sehingga pada
ketinggian tertentu kulit pembungkusnya mudah sekali robek sehingga pesawat
akan mengalami dekompresi secara mendadak.
De Havilland Comet akhirnya didesain ulang secara
menyeluruh, termasuk perubahan bentuk jendela dari semula bujursangkar menjadi
bentuk oval, menambah ketebalan kulit pembungkus badan pesawat dan juga
memperbaiki sistem sambungan antar kulit. Seluruh perbaikan ini menyebabkan
Comet baru dapat kembali mengudara pada tahun 1958 dan sayangnya Amerika saat
itu telah memiliki Boeing 707 dan DC-8. Reputasi buruk De Havilland Comet tidak
dapat mengembalikan citra Comet bagi maskapai penerbangan dan tahun 1964 adalah
tahun terakhir De Havilland Comet diproduksi bagi kepentingan komersial.
| De Havilland Comet yang masih digunakan |
De Havilland Comet masih digunakan oleh RAF dan
diproduksi oleh Hawker Siddeley dengan nama Hawker Siddeley Nimrod. RAF
menggunakan Nimrod bagi kepentingan patroli maritim Inggris raya dan dengan
penggunaan serangkaian teknologi terbaru Nimrod diharapkan dapat digunakan sampai tahun 2020.
Berbagai Sumber
Pertempuran Biak
Tag
HISTORY
Pertempuran Biak merupakan bagian dari kampanye
Niugini dalam Perang Dunia II. Pertempuran tersebut dilakukan oleh Angkatan
Darat Amerika Serikat dan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dari 27 Mei 1994
hingga 20 Juni 1994. Di sinilah untuk pertama kalinya pihak Jepang menggunakan
taktik penyergapan dalam skala besar di Perang Dunia II.
LATAR
BELAKANG
| Pulau Biak |
Dari satu pesan bertanggal 4 Mei 1944 yang berhasil
disadap, diketahui bahwa intelijen Komando Pasukan Area ke-2 AD Kekaisaran
Jepang menyangka pendaratan Sekutu berikutnya akan dilakukan di Biak, sehingga
pendaratan pendahuluan dilakukan terhadap Wakde pada tanggal 17 Mei, dalam
perjalanan menuju Biak. Di sana sebuah lapangan terbang yang lebih kecil
tersedia, yang bisa digunakan sebagai pangkalan garis depan hingga
lapangan-lapangan terbang di Biak siap digunakan. Walaupun prakiraan intelijen
memperkirakan pasukan musuh berjumlah sekitar 5000 orang, sebuah pesan yang
berhasil disadap pada akhir bulan April mengungkapkan jumlah pasukan
berdasarkan kebutuhan ransum sekitar 10.800 orang, walau angka tersebut
dianggap mewakili proyeksi kekuatan, dan bukan kekuatan riil saat ini.
PERTEMPURAN
| Serangan Terhadap Pulau Biak |
Mereka bergerak masuk
ke dalam pulau dengan penuh percaya diri dalam keyakinan hanya akan menghadapi
perlawanan ringan, hingga mereka mencapai lapangan terbang yang vital itu. Kemudian,
dari dataran sekitar dan tepian-tepian puncak perbukitan di atas, muncul badai
peluru dan proyektil meriam yang membuat mereka berlindung tanpa bisa
kemana-mana. Setelah malam tiba, barulah traktor-traktor amfibi berhasil
mengeluarkan mereka dari jebakan tersebut. Pada hari berikutnya, mereka
mencapai lapangan Mokmer, dengan sasaran lapangan Sorido. Pasukan Jepang tetap
bertahan, dan menunda jatuhnya lapangan Mokmer selama sepuluh hari.
| Tank M4 Sherman |
Dari sebuah sadapan,
Unit Nirkabel ke-1 RAAF mendapat informasi bahwa Letjen Takuzo Numata, Kepala
Staf Komando Pasukan Area ke-2 AD sedang berada di pulau tersebut dalam sebuah
tur inspeksi. Pangkatnya lebih tinggi dari Kolonel Kuzume, dan mengirim pesan
yang memohon agar dirinya dievakuasi. Dirinya dievakuasi oleh pesawat amfibi
dari Teluk Korin pada tanggal 20 Juni. Pada tanggal 22 Juni, Kolonel Kuzume
membakar panji-panji kesatuan lalu melakukan hara kiri.
Karena Laksamana Toyoda
membutuhkan landasan-landasan di Biak untuk menyerang Armada Pasifik AS, ia
melancarkan Operasi Kon, upaya untuk menyelamatkan Biak. Sebuah serangan pada
tanggal 8 Juni berhasil dibendung oleh kekuatan laut Amerika dan Australia.
Serangan pertama pada tanggal 1 Juni dibatalkan ketika sebuah pesawat Jepang
memberi laporan keliru yang menyatakan kehadiran sebuah kapal induk AS, dan
serangan ketiga pada tanggal 13 Juni dialihkan ke utara, ke Laud Filipina untuk
menyerang kapal-kapal induk Armada ke-5 AS; serangan ini mestinya
mengikutsertakan kapal-kapal tempur super Jepang, Yamato dan Musashi.
Pasukan Amerika
berhasil menembus pertahanan Jepang pada tanggal 22 Juni, di mana daerah
pesisir dari Bosnik hingga Sorido berhasil direbut, termasuk tiga lapangan
terbang di Sorido (4500 kaki), Borokoe (4500 kaki), dan Mokmer (8000 kaki).
Masih tersisa sekitar 3.000 pasukan Jepang yang mencoba menggalang serangan
balik penghabisan hingga 17 Agustus. [7] Bleakley mengenang bahwa dalam sebuah
gubuk bambu berisi peralatan rekreasi Jepang, semacam PX atau toko khusus
militer yang memuat "lusinan pasang sepatu skating" – "di sebuah
pulau antah berantah di khatulistiwa!". Selama beberapa waktu ia menyimpan
sepasang sebagai suvenir, dan berkata bahwa para prajurit Jepang diberitahu
kalau mereka berada di sebuah pulau lepas pantai San Francisco, dan tak lama
lagi akan menginvasi Amerika. Ia berada bersama Unit Nirkabel ke-1 RAAF,
satu-satunya kesatuan Australia di pulau tersebut.
AKHIR
PERTEMPURAN
Bagi pihak Amerika,
perebutan Pulau Biak memakan korban 474 orang tewas dan 2.428 luka-luka. Pihak
Jepang kehilangan 6.000 orang tewas dan 450 orang tertawan, sehingga lebih dari
4.000 orang lainnya tak diketahui nasibnya atau hilang dalam tugas dan
diasumsikan tewas. Artinya, mereka dimusnahkan. Setelah itu, tak ada lagi
serangan Banzai tanpa pikir panjang dan penuh emosi, yang biasanya membuat
kekuatan Jepang terkuras hingga pupus. Biak merupakan pertempuran yang
melelahkan dan alot. Taktik penyergapan atau menunda-nunda ini diulangi di
Pertempuran Peleliu, Pertempuran Okinawa, dan Pertempuran Iwo Jima, yang
sebelumnya diperkirakan Korps Marinir AS dan AD AS bisa dimenangkan hanya dalam
beberapa hari atau minggu saja, tapi justru berlanjut hingga berbulan-bulan,
dengan kerugian yang sangat besar, bukan hanya karena menghabiskan waktu yang
berharga, tapi juga jatuhnya korban jiwa dan peralatan yang jauh lebih berharga.
MONUMEN
Di pantai Paray, di
antara desa Mokmer dan Bosnik, sekitar tujuh kilometer dari Biak Kota, terdapat
sebuah monumen peringatan Perang Dunia II. Monumen ini dibangun pada tahun 1994
lewat kerjasama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang. Ada pula gua
Jepang Binsari, yang terletak di Desa Sumberker, Samofa, sekitar lima kilometer
dari Biak Kota.
Wikipedia.org
Wikipedia.org
Langganan:
Postingan (Atom)
