Ads 468x60px

Kapal Perusak

Kapal Perusak (Destroyer)

Kapal perusak atau destroyer merupakan kapal perang yang mampu bergerak cepat serta lincah bermanuver. Fungsi kapal perusak adalah memproteksi armada kapal perang yang berukuran lebih besar seperti kapal induk (carrier) atau capital warship (kapal tempur (battleship) atau kapal penjelajah (cruiser)) dari ancaman serangan peralatan perang yang lebih kecil seperti kapal...

Read More
Historical Battle of Iwo

Historical Battle of Iwo Jima

Pertempuran Iwo Jima terjadi antara 19 Februari - 26 Maret 1945, (dengan kode sandi Operasi Detasemen) adalah pertempuran di mana Amerika Serikat bertujuan merebut Iwo Jima dari Jepang. Invasi AS memiliki misi merebut dua lapangan udara di Iwo Jima. Dalam pertempuran tersebut, Amerika Serikat berhasil merebut Iwo Jima, termasuk pangkalan udara yang ada di pulau milik Jepang tersebut. Perang ini disebut sebagai perang tersengit...

Read More
Olimpedit quo minus

Mitsubishi A6M/Zero

Mitsubishi A6M yang terkenal, secara popular disebut dengan julukan “Zero”, adalah pesawat tempur kapal induk pertama di dunia yang mampu mengalahkan pesawat tempur “land-based” sejaman yang dia hadapi. Karena kecerobohan inteligen Sekutu, pesawat ini mampu meraih superioritas udara intermediet diatas Hindia Timur dan Asia Tenggara....

Read More
Itaque earum rerum

TBF Avenger

Grumman TBF Avenger adalah pesawat pembom torpedo yang awalnya dikembangkan untuk Angkatan Laut Amerika Serikat dan Korps Marinir , dan pada akhirnya digunakan oleh beberapa angkatan laut dunia. Mengawali karir AS pada tahun 1942, dan memulai debutnya pada Pertempuran Midway . Akibat minimnya pengalaman penerbang pembom torpedo Amerika,...

Read More
Epudiandae sint molestiae

KRI Irian

Kapal jenis ini adalah Kapal Penjelajah konvensional terakhir yang dibuat untuk AL Soviet, 13 kapal diselesaikan sebelum Nikita Khrushchev menghentikan program ini karena kapal jenis ini dianggap kuno dengan munculnya rudal (peluru kendali). Kapal ini adalah versi pengembangan dari Penjelajah Kelas Chapayev. KRI Irian sebenarnya adalah kapal Penjelajah Ordzhonikidze dari armada Baltik AL Soviet...

Read More
Sahut aut reiciendis

Tank Tiger, Masterpiece From world War 2

Tank Tiger adalah salah satu jenis Tank Berat Jerman yang beroperasi pada waktu Perang Dunia ke 2. Nama resmi Tiger adalah PzKpfw VI Ausf. E yang disandangnya sejak Maret 1943. Tank Tiger muncul pertama kali pada tahun 1942 sebagai usaha Jerman untuk mengalahkan Tank Uni Soviet, T 34 yang terkenal dengan mobilitas dan daya serang yang tinggi. Tank Tiger dirancang oleh Henschel dan Sohn dengan berat sekitar 60 ton tiap buahnya. Selama Perang...

Read More

Selasa, 02 Oktober 2012

Sepintas Mengenai UAV


UAV MQ-1 Predator
Unmanned Aerial Vehicle atau dalam bahasa indonesia disebut kendaraan udara tak berawak , UAV juga memiliki banyak sebutan lain seperti “Unmanned aircraft”, "drones", "remotely piloted vehicles (RPVs)”. UAV sendiri merupakan pengembangan dari Aeromodeling yang jika pada awalnya Aeromodeling ditunjukan untuk keperluan hobby saja, namun berbeda dengan UAV, UAV lebih banyak digunakan untuk keperluan militer dari mulai pengintaian, pemboman sampai pertempuran udara, yang membedakan UAV dengan Rudal yang dikendalikan adalah UAV dapat digunakan berulang kali sedangkan rudal meskipun dapat dikendalikan tidak dapat digunakan kembali.

Jika berdasarkan pengertian sederhana UAV adalah pesawat yang hanya dapat terbang lurus sambil mengumpulkan data atau sering disebut drones, seiring dengan berjalannya perkembangan teknologi UAV pun terbagi menjadi 2 jenis yaitu yang dikendalikan dari lokasi lain yang lebih jauh atau pun yang berjalan sesuai dengan aturan tertentu yang telah diprogram kedalamnya, UAV memiliki berbagai bentuk, ukuran, konfigurasi dan karakteristik. contoh dari beberapa UAV yang sering digunakan atau yang telah dibuat adalah RQ-4 Global Hawk, MQ-1 Predator, TAM-5 dan masih banyak UAV lainnya. Setiap UAV memiliki fungsi yang berbeda satu dengan yang lain, fungsi atau kegunaan UAV yaitu :

1. Pengindraan jarak jauh UAV fungsi penginderaan jauh mencakup sensor spektrum elektromagnetik, sensor biologis, dan sensor kimia. Sebuah UAV's dengan sensor elektromagnetik biasanya mencakup spektrum visual, inframerah, atau kamera dengan inframerah dan juga sistem radar. Detektor gelombang elektromagnetik lain seperti microwave dan sensor spektrum ultraviolet juga dapat digunakan, tapi tidak umum. Sensor sensor biologis mampu mendeteksi kehadiran udara berbagai mikroorganisme dan faktor-faktor biologi lainnya. Sensor kimia menggunakan spektroskopi laser untuk menganalisis konsentrasi dari setiap elemen di udara.

Global Hawk
2. Transportasi UAV dapat mengangkut barang dengan menggunakan berbagai cara yang didasarkan pada konfigurasi dari UAV itu sendiri. Kebanyakan muatan disimpan dalam bagian pesawat , namun untuk uav dengan bentuk helikopter dapat mengangkut di bagian luarnya, kebanyakan UAV digunakan untuk mengangkut kargo-kargo ringan yang membutuhkan kecepatan pengiriman dan memiliki resiko pengiriman tinggi.

3. Penelitian Ilmiah pesawat tanpa awak mampu menembus daerah daerah berbahaya yang tidak memungkinkan bila menggunakan pesawat berpilot, misalnya daerah pusat badai, perburuan angin topan, penlitian terbang pada ketinggian tertentu yang berbahaya bagai manusia dan lain lain.

4. Penyerang Bersenjata, beberapa UAV seperti Predator RQ-1 telah dapat melakukan serangan ke target – target darat, bahkan Predator RQ-1 juga telah dapat digunakan untuk mengadakan pertempuran antar pesawat, kemampuan yang dimiliki UAV ini sangat menguntungkan bagi negara – negara maju karena resiko pengunaan pilot sebagai sandera atau tawanan perang telah dapat dihilangkan, dan juga dapat digunakan untuk misi misi rahasia dan yang bersifat sensitif dalam dunia politik internasional.
MQ-9 Reaper

5. SAR [ Search and Rescue] kemampuan UAV untuk terbang pada daerah berbahaya memungkinkan UAV dapat terbang bahakan dalam cuaca terburuk sekalipun, sehingga dapat meningkatkan efektifitas dalam pencarian korban kecelakanan ataupun korban cuaca buruk lainnya , dan daya terbang UAV yang tidak tergantung pada ketahanaan pilot mememungkinkan UAV terus menurus mencari korban tanpa berhenti .





Sistem Navigasi pada UAV

UAV pada awalnya digunakan selama Perang Vietnam ditangkap setelah peluncuran dengan video yang merekam dengan mengunakan film atau kaset di pesawat. Pesawat ini sering kali diluncurkan dan terbang dalam garis lurus atau dalam lingkaran tertentu sambil mengumpulkan video sampai mereka kehabisan bahan bakar dan mendarat. Setelah mendarat, film baru ditemukan untuk di analisis. Karena sifat sederhana pesawat ini, mereka sering disebut drones. Sistem kontrol radio baru tersedia setelahnya, UAV dikontrol dari jarak jau dan istilah "kendaraan dikemudikan yang dari jarak jauh" datang menjadi mode. Saat ini UAV sering menggabungkan Pengendaliaan jarak jauh dengan komputer dan otomatisasi. Versi yang lebih canggih mungkin memiliki built-in kontrol dan / atau sistem panduan untuk melakukan tugas tingkat rendah pilot manusia seperti stabilisasi kecepatan dan jalur penerbangan, dan fungsi navigasi scripted sederhana seperti berikut titik arah. Karena UAV memiliki kendali jarak jauh maka UAV. Dapat dipastikan bahwa UAV telah memiliki GPS yang terintegrasi untuk menentukan posisi UAV sendiri dan targetnya atau tujuan UAV sendiri.


UAV Buatan Indonesia

Rabu, 12 September 2012

De Havilland Vampire


De Havilland Vampire adalah pesawat tempur jet kedua yang digunakan secara operasional oleh Angkatan Udara Inggris. Prototype jet tempur ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 20 September 1943, namun tidak sempat diturunkan dalam Perang Dunia II dan baru memperkuat skadron-skadron tempur RAF pada tahun 1946. Pesawat tempur ini dibuat sebanyak 3.268 unit dalam berbagai varian.

Secara total terdapat 15 varian Vampire, termasuk varian latih berkursi ganda, varian nigh fighter, dan varian pesawat jet tempur angkatan laut yang diberi nama Sea Vampire. Prototype Sea Vampire sendiri mencatatkan sejarah ketika pada tanggal 4 Desember 1945 melakukan pendaratan dan tinggal landas dari kapal induk HMS Ocean, menjadikannya sebagai pesawat jet tempur pertama yang melakukan pendaratan dan tinggal landas dari sebuah kapal induk. Kemudian pada tanggal 14 Juli 1948 varian Vampire F3 mencatatatkan rekor sebagai pesawat jet pertama yang melakukan penerbangan melintasi samudera Atlantik.

Vampire termasuk sebagai pesawat tempur yang terbukti battle proven. Jet tempur ini digunakan oleh Inggris untuk menggempur gerilyawan komunis selama operasi militer di Malaya. Kemudian Angkatan Udara India juga menggunakan Vampire dalam perang India-Pakistan tahun 1945. Pesawat tempur ini juga masih digunakan oleh Rhodesia dalam bush war/perang kemerdekaan Zimbabwe yang berlangsung dari tahun 1964 sampai dengan tahun 1979.

De Havilland Vampire termasuk pesawat jet tempur yang cukup sukses secara komersial dan digunakan oleh 31 negara, termasuk Indonesia. AURI sempat mengoperasikan varian latih D.H.115 Vampire T.11 yang merupakan pesawat jet pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Inggris sendiri mengoperasikan Vampire sampai dengan tahun 1966, sementara pengguna terakhir Vampire adalah Rhodesia/Zimbabwe yang baru mempensiunkan pesawat ini pada tahun 1979-1980.


Specifications (Vampire FB.6)
Crew : 1
Powerplant : 1 x 14.9 kN de Havilland Goblin 3 turbojet engine
Length : 9.37m
Wingspan : 11.58m
Height : 2.69m
Weight empty : 3,304 kg
Maximum take-off weight : 5,620 kg
Maximum speed : 882km/h
Range : 1,960 km
Service ceiling : 13,045m
Armament : 4 x 20mm Hispano Mk.V cannons, 8 x 3 inch rockets, 2 x 225 kg (500 lb) bombs

Rabu, 05 September 2012

INS Viraat, Kapal Induk India Tertua

INS Viraat (R22) (Sanskrit: Virā. "Giant") adalah sebuah kapal induk kelas Centaur yang saat ini beroperasi untuk AL India. INS Viraat adalah flagship dari AL India yang merupakan kapal induk tertua yang masih beroperasi dan salah satu dari dua kapal induk yang berada di wilayah Samudera Hindia.

Viraat selesai dibangun dan mulai ditugaskan pada 1959 sebagai HMS Hermes milik Royal Navy Inggris, dan ditransfer ke India pada 1987. Pada 2009 terdapat laporan bahwa setelah selesainya refit di tahun tersebut, India kemungkinan akan tetap mengoperasikan kapal induk ini hingga 2020. Pada saat itu, kapal induk ini akan menyelesaikan masa tugas selama 60 tahun, lebih dari dua kali perkiraan awal masa dinas/pelayaran selama 25 tahun. Pada saat itu juga, dua kapal induk produksi dalam negeri India sudah bisa beroperasi secara penuh, seperti yang diungkapkan oleh sumber dari Al India yang tidak disebutkan namanya.

Helikopter Sea King
Air Group Viraat saat ini terdiri dari 12 hingga 18 pesawat fighter Sea Harrier V/STOL dan tujuh atau delapan helikopter anti-kapal selam Sea King atau Kamov “Hormone”. Dalam keadaan darurat, Viraat dapat mengoperasikan hingga 30 Harrier. Saat ini, pesawat Sea Harrier dipersenjatai dengan Sea Eagle Anti-Ship Missiles (ASMs) dan misil Matra 550 Magic. Helikopternya, seperti Sea King, digunakan sebagai Anti-Submarine Warfare (ASW), Search-And-Rescue (SAR) dan transport. Kapal induk ini dilengkapi dengan sistem pertahanan titik misil “Barak” yang dibuat oleh Israel.

Dalam sebuah skenario masa perang, INS Viraat dapat meluncurkan hingga 18 pesawat tempur. INS Viraat secara ideal cocok untuk dua misi: mendukung operasi amfibi dan melancarkan operasi ASW (Anti Kapal Selam).



Sejarah Operasional

Dinas Royal Navy Inggris
INS Viraat pada awalnya ditugaskan untuk Royal Navy Inggris sebagai HMS Hermes pada 18 November 1959. Selama karirnya sebagai Hermes, dia berperan sebagai flagship gugus tugas Royal Navy selama Falkland Islands Campaign pada 1982. Kapal induk ini kemudian terus bertugas hingga 3 tahun kemudian hingga dipensiunkan dari tugas aktif pada 1985.

Perpindahan ke AL India
Setelah mengevaluasi kapal-kapal dari beberapa negara, terutama kapal induk Italia, Garibaldi, AL India membeli HMS Hermes pada April 1986 dan melakukan perbaikan ekstensif di Devonport Dockyard, Plymouth, Inggris, untuk memastikan operabilitas kapal hingga dekade mendatang. Peralatan kontrol penembakan baru, radar navigasi, proteksi NBC yang lebih baik dan landing deck aids dipasang pada proses perbaikan ini. Boilernya dikonversi untuk berperasi dengan distillate fuel. Setelah proses perbaikan selesai, kapal ini ditugaskan ke AL India dengan nama Viraat pada Mei 1987.


First Mid-service Refit
Pada September 1993, ruang mesin Viraat kebanjiran, membuat kapal induk tersebut sementara tidak dapat beroperasi selama beberapa bulan. Pada 1995 kapal induk ini kembali beroperasi dengan radar pencari baru.


Second Mid-service Refit
Antara Juli 1999 dan April 2001, INS Viraat selesai menjalani life-extension refit yang menambah kemungkinan serviceablilitas-nya hingga 2010. Refit ini meng-upgrade sistem propulsi, paket sensor tambahan untuk mengeluarkan suara peringatan darurat, dan memperkenalkan sistem komunikasi modern. Sebagai tambahan, radar survey jarak jauh, sistem persenjataan dan hangar baru dengan tirai api telah dipasang. Sistem lift dirubah untuk mengurangi waktu reaksi pada saat adanya serangan dan sistem alarm banjir baru juga dipasang. Pada awal Juni 2001 Viraat kembali beroperasi setelah refit hampir 2 tahun lamanya.

Kemudian kapal induk ini juga mengambil bagian dalam International Fleet Review di Mumbai pada Februari 2001. Wing commander Ashoka Padmanabhan menerbangkan Tigermoth-B970 dari kapal induk ini yang sedang bersauh 1,5 mil laut dari Gateway of India.


Third Mid-service Refit
Kapal induk ini harus ditarik ke dok kering untuk dilakukan perbaikan pada pertengahan 2003 dan kembali beroperasi pada November 2004, selama perbaikan ini kapal dipasangi dengan Barak SAM.


Fourth Mid-service Refit

Viraat menjalani perbaikan keempat selama karirnya di AL India dari Januari hingga Agustus 2009 di Cochin Shipyard, Kochi, India. Perbaikan ini diharapkan memastikan berlanjutnya masa tugas kapal induk ini untuk AL India hingga 2015. Viraat menjalani pelatihan di Laut Arap selama 1,5 bulan sebelum diterjunkan ke Teluk Aden.


Short Refit
 
Pada 12 Juli 2011 INS Viraat tiba di Cochin Shipyard untuk perbaikan singkat yang dijadwalkan selesai dalam 2 bulan. Sebagai bagian perbaikan, kapal dibersikan, diperbaiki dan dicat ulang untuk mengurangi masalah korosi. Menurut Rear Adm. Anil Kumar Chawla, Assistant Chief of Naval Staff for Foreign Cooperation and Intelligence, kapal induk mungkin akan beroperasi hingga 2020, didukung dengan pesawat Sea Harrier-nya untuk operasi ship-borne.


Decommissioning Plans
Pada 2004, India membeli kapal induk Admiral Gorshkov dari Rusia dengan harga US$ 2.35 miliar termasuk komponen pesawat. Kapal induk ini diharapkan mulai beroperasi pada 2013–2014 sebagai INS Vikramaditya. Viraat diharapkan akan digantikan pada 2015-16 oleh kapal induk baru buatan dalam negeri, kelas Vikrant. Setelah pembaruan mesin dan hull, serta upgrade elektronik, kapal induk ini akan dapat beroperasi hingga 2020. Jika INS Vikramaditya bergabung dengan Western Naval Fleet pada 2012, AL India akan segera memiliki dua Carrier Battle Groups. Pada 2015, dengan kedatangan kapal induk baru kelas Vikrant, maka berarti AL India akan memiliki 3 Carrier Battle Groups.



Struktur
Viraat dilengkap dengan ski jump 12° untuk mengoperasikan Sea Harrier, sebuah dek penerbangan yang diperkuat, dan lapis baja setebal 1,2 inci di ruang mesin dan magasin. Kapasitas magasin terdiri dari 80 torpedo ringan. Kapal induk ini mempertahankan kemampuan angkut komando hingga 750 pasukan dan membawa empat LCVP landing craft di bagian belakang. Dalam sebuah skenario masa perang, INS Viraat dapat meluncurkan hingga 18 pesawat tempur. INS Viraat secara ideal cocok untuk dua misi: mendukung operasi amfibi dan melancarkan operasi ASW (Anti Kapal Selam). Walaupun dengan mempertimbangkan usia dan jarak, INS Viraat dapat melakukan operasi naval and air power secara efektif dimana saja di wilayah Asia Selatan.


Karakteristik Umum
Struktur:
Kelas dan Tipe: Kapal Induk Kelas Centaur
Bobot: 23,900 ton (standar); 28,700 ton (beban penuh)
Panjang: 226.5 m (743 kaki)
Beam: 48.78 m (160.0 kaki)
Draught: 8.8 m (29 kaki)

Performa:
Propulsi: 2 x Parsons geared steam turbines; 4 boiler dengan 400 psi, 76,000 shp
Kecepatan: 28 knots (52 km/h)
Jarak: 6,500 mi (10,500 km) pada kecepatan 14 knots (26 km/h)

Komplemen:
Maksimum 2,100;
1,207 awak kapal
143 air crew

Sensor dan Sistem Pemrosesan:
1 x radar udara BEL/Signaal RAWL 02
1 x radar udara/permukaan RAWS 08
2 x radar navigasi BEL Rashmi
1 x radar kendali penembakan EL/M-2221 STGR
1 x radar Plessey Type 904
1 x sistem FT 13-S/M Tacan

Sonar:
1 x sonar terpasang di hull Graseby Type 184M

Electronic warfare and decoys:
1 x BEL Ajanta ESM
2 x peluncur chaff Knebworth Corvus

Persenjataan:
2 x 40mm Bofors AA guns
16 x Barak SAM VL cells

Air Group:
(Kapasitas total 30 Pesawat):
Fleet Defence - Sea Harrier FRS51
Airborne Early Warning - Kamov Ka-31 Helix-B
ASW/ASV - Sea King Mk. 42B dan Kamov Ka-28 Helix-A
Commando Assault and Vertical Replenishment - Sea King Mk. 42C

Minggu, 02 September 2012

USS Independence (LCS-2)



USS Independence (LCS-2) adalah prototipe untuk kapal dari kelas Independence littoral combat ship, di mana angkatan laut Amerika Serikat akan mempunyai kapal dari kelas ini sebanyak 6 buah. Dan kapal ini diproduksi oleh konsorsium General Dynamics untuk angkatan laut Amerika Serikat pada program littoral combat ship. Dan kapal kelas USS Independence (LCS 2) ini akan bersaing dengan Lockheed Martin yang merancang USS Freedom (LCS 1).

Kapal ini merupakan kapal tempur angkut ringan yang dapat berperan dalam berbagai kemampuan dengan cara pemasangan modul misi. Kapal dirancang dengan bentuk trimaran yang dapat melaju dengan kecepatan lebih dari 40 knot ( 74 km/jam atau 46 mil/jam) dan saat ini telah diserahkan kepada pihak angkatan laut Amerika Serikat pada akhir tahun 2009 yang lalu.


Desin dari USS Independence (LCS-2) ini berdasarkan pada trimaran kecepatan tinggi (Benchijigua Express) yang dibangun oleh Austral (Henderson Australia). Kapal permukaan ini mempunyai panjang 127 meter dengan jumlah pelaut sebanyak 40 orang. Dan kapal ini sebenarnya masih dapat dipacu sampai kecepatan 50 knot ( 90 km/jam atau 60 mil/jam) dengan radius sejauh 10.000 mil laut (19.000 km). Kapal ini dapat memuat muatan sampai volume 11.000 meter kubik dan untuk pesawat helikopter tersedia dek seluas 1.030 meter persegi sehingga dapat mendukung pengoperasian 2 helikopter SH-60 Sea Hawk, beberapa UAV atau satu buah helicopter CH 53 Sea Stallion.

Kapal ini juga membawa beberapa persenjataan sehingga mempunyai kemampuan untuk membela diri. Namun demikian tidak seperti kapal tempur tradisional yang lainnya yang membawa persenjataan tetap seperti meriam dan peluru kendali. Modul misi kapal ini dapat disusun untuk satu paket misi untuk suatu waktu. Modul dapat terdiri dari pesawat berawak, pesawat tak berawak, off board sensor dan lain sebagainya.

USS Independence (LCS-2) ini berintegrasi dengan LOS Mast, Sea Giraffe 3D radar dan SeaStar Safire FLIR.Bagian samping dan depan bentuknya menyudut untuk mengurangi profil radar. Sebagai tambahan yang berupa helikopter dari keluarga H-60 yang berguna untuk angkut udara, SAR, anti kapal selam, dan anti kapal permukaan dengan adanya rudal dan torpedo yang dibawa oleh helikopter tersebut. Sistem pertahanan rudal Raytheon Evolved SeaRAM dipasang pada bagian atas atap hangar. SeaRAM di kombinasikan dengan sensors dari Phalanx 1B close-in weapon system dengan 11 peluncur peluru kendali untuk Rolling Airframe Missile (RAM), dibuat sistem yang bekerja secara otomatis. Northrop Grumman pernah mendemontrasikan gabungan sensor baik on dan off-board sistem di Integrated Combat Management System (ICMS) yang dipakai di Independence.



spesifikasinya :
Nama                  : USS Independence (LCS-2)
Pembangun          : Austal (Henderson, Australia)
Diluncurkan         : 26 April 2008
Mulai beroperasi : 16 Januari 2010
Status                 : aktif mulai thun 2010.
Pangkalan           : San Diego.

Karakteristik umum :
Kelas dan tipe    : Independence, littoral combat ship
Berat                  : 2.176 ton kosong dan 2.784 ton penuh.
Panjang              : 127,4 m (418 kaki).
Tinggi                 : 31.6 m (104 kaki)

Rabu, 15 Agustus 2012

Kapal Perusak (Destroyer)

Kapal Perusak USS Zumwalt

Kapal perusak atau destroyer merupakan kapal perang yang mampu bergerak cepat serta lincah bermanuver. Fungsi kapal perusak adalah memproteksi armada kapal perang yang berukuran lebih besar seperti kapal induk (carrier) atau capital warship (kapal tempur (battleship) atau kapal penjelajah (cruiser)) dari ancaman serangan peralatan perang yang lebih kecil seperti kapal terpedo, kapal selam atau pesawat terbang.

Sebelum Perang Dunia II, kapal perusak merupakan kapal perang ringan yang tidak memiliki ketahanan untuk beroperasi di laut lepas, sehingga harus beroperasi secara berkelompok. Selama dan setelah perang, kapal perusak menjadi kapal yang mandiri dan tonasenya serta perannya semakin bertambah, terutama ketika cruiser menjadi sangat berperan pada tahun 1950 and 60-an.

Pada awal abad ke-21, kapal perusak menjadi kapal perang permukaan terberat dengan fungsi yang sangat umum, hanya empat negara (Amerika Serikat, Rusia, Perancis dan Peru) yang mengoperasikan cruiser (kapal yang lebih besar) dan tidak ada lagi negara yang mengoperasikan battleship. Kapal perusak modern memiliki tonase yang hampir sama dengan cruiser masa Perang Dunia II, tetapi secara persenjataan sudah sangat superior bahkan mampu mengangkut misil nuklir yang mampu menghancurkan sebuah kota dalam waktu singkat.

SEJARAH SINGKAT
Sejarah perkembangan kapal perusak dimulai dari revolusi industri pada pertengahan abad ke-19 yang telah mengevolusikan kapal layar menjadi kapal bermesin uap. Pada tahun 1897, seorang insinyur muda bernama Charles Parsons membuat AL Inggris tercengang dengan penemuan turbin uapnya. Penemuan ini sangat revolusioner dan bermanfaat sekali untuk meningkatkan kemampuan kapal perang. Di bidang persenjataan, juga terjadi revolusi akibat munculnya torpedo. Robert Whitehead menemukannya pada tahun 1866.

Kapal Perusak milik Jepang
Kemunculan torpedo telah memunculkan konsep kapal perang baru, yaitu kapal torpedo. Karena sangat lincah dan bentuknya kecil, maka kapal cepat ini menjadi ancaman nyata bagi kapal-kapal perang besar. Kapal tempur (battleship) misalnya, dengan tubuhnya yang besar dan meriam-meriam besarnya, terlalu lamban untuk menghadapi kapal sekecil itu.

Oleh sebab itu untuk melindungi kapal-kapal perang besar dari serangan kapal torpedo, dirancanglah kapal perang lebih kecil yang lincah dengan memiliki beraneka kaliber senjata yang dapat menembak cepat. Maka muncullah si perusak kapal torpedo (torpedo boat destroyer). Lama-lama namanya disederhanakan menjadi destroyer saja atau kapal perusak.

Evolusi desain kapal perusak terjadi tatkala Perang Dunia I meletus. Pada masa itu muncul ancaman dari kapal selam U-Boat bagi armada kapal perang. Akibatnya mau tak mau kapal perusak harus dilengkapi senjata penangkal kapal selam. Senjata yang dimaksud tak lain berupa bom dalam (depth charges) serta sonar untuk mengetahui posisi kapal selam lawan.

Perubahan kapal perusak kembali terjadi dalam Perang Dunia II. Lagi-lagi disebabkan oleh arsenal baru yang dilibatkan. Kali ini lawan tangguh muncul dari udara, pesawat terbang. Sekali lagi ada tipikal senjata baru berupa kanon antipesawat mesti dijejalkan. Akibat penambahan arsenal, berarti dimensi luas dek maupun bobot kapal bakal melonjak. Efeknya, destroyer menjelma menjadi kapal penjelajah (cruiser).

Perubahan kelas itu tidak menjadi masalah bagi angkatan laut yang berencana membangun kapal perusak baru. Tetapi untuk armada kapal yang sudah operasional tentu menjadi masalah. Solusi singkat didapat dengan mengadopsi meriam fungsi ganda (dual purpose canon). Meriam ini selain bisa digunakan untuk menghantam target permukaan, ia bisa pula dipakai merontokkan pesawat. Ciri khas meriam ini adalah kecepatan tembak (rate of fire) lebih tinggi daripada meriam anti kapal (satu fungsi/single purpose).

PENGAWAL KAPAL INDUK
Pasca Perang Dunia II, kapal perusak merupakan salah satu kapal yang terhindar dari kepunahan. Ini lantaran dengan biaya operasional lebih rendah daripada battleship, ia sudah bisa dipakai menangkal ancaman multidimensi. Permukaan, bawah permukaan, serta atas permukaan, semuanya bisa diatasi kapal perusak.

Berakhirnya perang dunia juga menandai munculnya trend baru dalam strategi pertempuran laut. Untuk menghantam target jarak jauh (over horizon target), meriam-meriam kaliber raksasa battleship sekarang tidak lagi sakti. Perannya digantikan oleh pesawat-pesawat tempur yang berbasis di kapal induk. Taktik perang maritim modern model ini sering dinamakan gugus tugas carrier battle group. Kapal perusak sendiri menjadi bagian dalam gugus tugas ini.

Menanggapi terobosan tadi, AS pernah berusaha untuk meracik kapal perusak varian baru, spesialis pengawal kapal induk. Kapal berbobot di atas 3.500 ton yang selesai tahun 1953-54 ini masuk ke dalam kelas Mitscher. Berbeda dengan kapal sejenis sebelumnya, Mitscher hanya mencomot arsenal yang tergolong ringan. Sebut saja diantaranya sepasang meriam otomatik dual purpose kaliber 127 mm, sepasang meriam ganda kaliber 75 mm, torpedo, hingga roket antikapal selam, Alfa. Untuk menghalau musuh yang lebih kuat, kapal perusak ini bergantung pada perlindungan pesawat tempur milik kapal induk.

Minggu, 29 Juli 2012

F-117A Nighthawk, Pesawat Siluman Pertama AS


F-117A Nighthawk merupakan pesawat siluman serang darat hasil dari program pesawat siluman Lockheed Have Blue, dan merupakan pesawat pertama yang dirancang khusus untuk menggunakan teknologi siluman.

F-117A banyak mendapatkan publikasi pada masa Perang Teluk. Kini Angkatan Udara Amerika Serikat berencana untuk mempensiunkan F-117, dikarenakan akan mulai dipakainya F-22 Raptor yang lebih efektif. F-117 akan mulai dipensiunkan secara bertahap dari Oktober 2006 sampai 2008, dan sudah tidak ada lagi pilot baru yang dilatih untuk menggunakan pesawat ini.

Penamaan huruf "F-" pada pesawat ini secara resmi tidak pernah dijelaskan. Namun, diperkirakan penamaan ini menggunakan konvensi penamaan pesawat militer Angkatan Udara Amerika Serikat sebelum tahun 1962, misalnya seperti F-111. Pada pesawat militer Amerika Serikat setelah tahun 1962, penamaan "F-" biasanya untuk pesawat tempur udara ke udara, "B-" untuk pesawat pengebom, "A-" untuk pesawat serang darat, dan "C-" untuk pesawat kargo (contohnya F-15 Eagle, B-2 Spirit, A-6 Intruder, dan C-130 Hercules). Pesawat siluman ini merupakan pesawat serang darat, karena itulah huruf awal "F-" dan penomorannya masih menjadi misteri.

Baru-baru ini sebuah film dokumentasi yang mewawancarai seorang anggota senior tim pengembangan F-117, mengatakan bahwa pilot-pilot terbaik akan lebih tertarik untuk mencoba pesawat "F-", dibandingkan pesawat "B-" atau "A-".

Cara Kerja Sistem Stealth Pada F-117




Pada gambar diatas Sebuah pesawat F-117 dapat menghindari radar karena pada desain pesawat tersebut memiliki minus lekukan sehingga radar yang datang dari musuh akan di pantulkan sehingga yang muncul pada monitor RCS musuh hanyalah dot-dot (titik-titik) yang sangat kecil yang bisa dianggap sebagai gerombolan burung dan bukanlah pesawat yang sedang menyelinap.

 
Mirip cara Terbang Burung Walet


Pesawat tanpa sistem stealth (siluman)

Gambar kedua ini adalah sebuah pesawat F-15 Eagle yang dalam desainnya banyak memiliki lekukan-lekukan tajam pada body nya sehingga dapat di tangkap oleh radar dengan baik dan muncul dalam monitor RCS sebagai dot-dot pesawat tempur yang menyusup.


Pada prinsipnya, supaya pesawat tersebut menjadi stealth (siluman) adalah cara memperkecil Radar Cross Section (RCS) yang tampak pada Radar. Langkah yang dilakukan adalah membuat desain bentuk pesawat tersebut sedemikian rupa sehingga permukaan-permukaan pesawat sekecil mungkin memantulkan energi yang dipancarkan radar untuk ditangkap kembali oleh antena radar. Bahkan bila perlu bentuk pesawat tersebut sama sekali tidak memantulkan energi radar. Kalaupun dipantulkan, diusahakan agar pantulan energi radar tersebut diarahkan ke arah lain sehingga jika ada yang tertangkap kembali, paling tidak hanya sebagian kecil saja. Untuk itu, maka bentuk pesawat dibuat aneh tidak seperti biasanya. Seperti contoh, bentuk pesawat B-2 yang memiliki rentang yang sama panjangnya dengan rentang pesawat DC-10 namun bentuknya dibuat pipih dan melengkung di bagian tengah badannya. Dengan bentuk demikian, disamping cepat rambat pancaran radar diperlambat juga memberikan efek pantulan ke segala arah.

Bentuk sayap pesawat juga memengaruhi pantulan pancaran energi radar. Bentuk sayap pesawat lama yang lurus ke samping misalnya memberikan pantulan yang sempurna sehingga pesawat ini mudah terdeteksi. pada layar monitor, titik RCS pesawat-pesawat itu tampak besar.

Melihat kenyataan demikian, kemudian orang membuat sayap sayung kebelakang, memang memperkecil pantulan namun tidak memuaskan karena RCS makin besar, maka dibuatlah delta yang membuat sebagian besar pancaran radar yang mengenai sayap itu, sebagian besar dibuang ke arah lain. Kemudian dibuat sayap dengan bentuk sabit seperti yang dimiliki pesawat-pesawat generasi berikutnya. Dengan membuat lengkungan pada bagian sayap, leading edge, maka pantulan ke arah lain semakin sempurna.

AH-64 Apache
Desain lain adalah membentuk pesawat bersegi-segi kubustik seperti bentuk mata faset, seperti pada mata capung. Bentuk tersebut juga ditemui pada helikopter pada generasi 1980-1990-an seperti pada AH-1 Cobra, dan AH-64 Apache sehingga pantulan radar tidak kembali ke antena radar.

Kemudian umumnya desain pesawat stealth tidak mengijinkan adanya pylon atau penggantung rudal maupun roket yang digantungkan pada badan dan sayap pesawat seperti yang dijumpai pada pesawat umumnya. Sehingga rudal ditempatkan pada rak-bom (bomb bay) khusus.

Cara lain yakni dengan menggunakan material khusus yang dikenal sebagai RAM (Radar Anti material) yang merupakan bahan penyerap energi pancaran radar. Bahan-bahan tersebut antara lain komposit berupa graphyte epoxy dari karbon. Karena bahan itulah, maka energi radar tidak terpantulkan.


Mungkin seperti itulah gambaran mudahnya mengapa sebuah pesawat bisa lolos dari monitor pengawas musuh. Walapun begitu, pesawat F-117 ternyata memiliki kelemahan juga, pada saat konflik Yugoslavia, pesawat ini tertangkap radar dan tertembak jatuh oleh misil SA-3 SAM buatan Russia.


Ternyata jatuhnya pesawat itu pada saat bom bay nya (pintu bom) dalam keadaan terbuka sehingga mungkin sudut-sudut tajam itulah yang tertangkap oleh radar kemudian di seranglah dengan misil darat ke udara tersebut (surface to air missile).

Kesimpulannya, akan perlu penyempurnaan pada setiap generasi pesawat tempur, dengan penyempurnaan tersebutlah pihak suatu negara memperkecil jumlah korban jiwa yang berjatuhan.




Karakteristik umum
Kru                    : 1
Panjang              : 65 ft 11 in
Lebar sayap       : 43 ft 4 in
Tinggi                 : 12 ft 9.5 in
Luas sayap         : 780 ft²
Bobot kosong     : 29,500 lb
Bobot terisi         : 52,500 lb
Mesin                 : 2× General Electric F404-F1D2 turbofans, 10,600 lbf masing-masing

Kinerja
Laju maksimum           : Mach 0.92 (617 mph, 993 km/h)
Laju jelajah                  : Mach 0.92
Jarak jangkau              : 930 NM
Batas tertinggi servis   : 69,000 ft
Beban sayap                : 65 lb/ft²
Dorongan/berat           : 0.40

Persenjataan
2 × internal weapons bays with one hardpoint each (total of two weapons) equipped to carry:
Bombs:
BLU-109 hardened penetrator
GBU-10 Paveway II laser-guided bomb
GBU-12 Paveway II laser-guided bomb
GBU-27 Paveway III laser-guided bomb
JDAM INS/GPS guided munition

Sumber            : id.wikipedia.org
                         terselubung.blogspot.com
                         www.indowebster.web.id
                         kaskus.co.id
                        

Rabu, 25 Juli 2012

Panzer VIII Maus, Tank Terbesar dan Terberat dari Jerman


Panzer VIII Maus (atau Panzerkampfwagen VIII Maus) merupakan tank paling berat yang selesai dikerjakan pada tahun 1944. Rancangan dasar Tank ini bernama VK7001 / Porsche Type 205 yang diusulkan oleh Ferdinand Porche kepada Adolf Hitler pada bulan Juni 1942. Pengerjaan tank ini terbilang cepat, prototype pertama dibuat pada tahun 1943. Awalnya tank ini diberi nama Mamut atau Mammoth dalam bahasa Inggris, nama yang pas karena terinspirasi dari gajah jaman prasejarah yang besar dan kuat. Namun akhirnya, nama itu kemudian diubah menjadi Mauschen (mausie) pada Desember 1942, sebelum akhirnya diputuskan menggunakan nama Maus (mouse) pada Februari 1943.

Kedua prototipe (satu dengan menara, satu tanpa menara) menjalani uji coba pada akhir tahun 1944. Tank ini memiliki panjang 10,2 meter (33 kaki 6 in), Lebar 3,71 meter (12 ft 2 in), Tinggi 3,63 meter (11,9 kaki) dan Beratnya yang mencapai 200 ton metrik yang awalnya direncanakan hanya memiliki berat 100 ton.

Untuk persenjataan utama Maus menggunakan Kanon 128mm, dengan senjata bantuan 75mm, dengan ketebalan baja 40-240mm. Maus dioperasikan oleh 6 awak, dan rencananya akan diproduksi hingga 200 unit, namun hingga akhir perang, hanya dua unit yang berhasil dibuat.

untuk berat yang dapat dibawa dalam tangki. Meskipun desain menyerukan kecepatan maksimum 20 kilometer per jam (12 mph), mesin tidak ditemukan yang dapat membangkitkan daya listrik prototipe untuk lebih dari 13 kilometer per jam (8,1 mph) dalam kondisi ideal. Berat juga tidak memungkinkan untuk menyeberang jembatan yang paling; itu dimaksudkan untuk ford atau menenggelamkan dan menggunakan snorkel untuk menyeberangi sungai.

Masalah utama dalam pengembangan Maus adalah menemukan mesin yang cukup kuat untuk menggerakan Tank Maus. Meskipun didesain memiliki kecepatan 20 kilometer per jam, tetapi kenyataannya tak satupun mesin di waktu itu yang mampu mencapai kecepatan diatas 13 km/jam dengan bobot kendaraan hampir 200 ton.

Selain itu pula, dengan berat seperti itu, tidak ada satupun jembatan yang akan mampu menahan bobotnya, karena terlampau berat, sehingga para insinyurnya mencari akal dengan cara membuat snorkel diatas Maus, sehingga Maus bisa berjalan di dasar sungai, dan memiliki kemampuan selam 45 kaki.


Spesifikasi :
Panzerkampfwagen VIII Maus
Pembuat                      : Ferdinand Porche
Tahun Produksi           : 1943
Jumlah dibangun          : 2
Awak                          : 6 Orang
Persenjataan                : Kanon 128mm, kanon bantuan 75mm, 2 machine Gun MG42
Dimensi                       : Panjang 10,1m; Lbr 3,67 ; tinggi 3,66m ; tebal baja 240mm
Berat                           : 188.000 kg (188 ton)
Mesin                          : Daimler-Benz MB 509
Performa                     : Kecepatan Max 13 Km /jam
  dapat menyelam dan berenang dengan ketinggian 45kaki  

Sumber            : automotivedunia.blogspot.com
                          en.wikipedia.org
                          terselubung.blogspot.com
                          faktawow.com                           


Minggu, 22 Juli 2012

WP Weserflug 1003, V-22 Osprey Versi Perang Dunia ke-2


WP Weserflug 1003, adalah pesawat Jerman yang dirancang pada tahun 1938 oleh Weserflug . Tujuan dari proyek ini adalah membangun sebuah pesawat militer dengan rotor yang dapat dimiringkan dengan karakteristik VTOL untuk digunakan dalam Perang Dunia II .

Pada awal tahun 1938 rencana untuk pesawat rotor tilt rotor disusun, dan proyek bernama P 1003 didukung oleh Kementerian Udara. Pesawat ini dibangun dengan sayap terpasang tinggi yang bisa menjadi berengsel di tengah jalan bersama, dan dengan baling-baling pada setiap ujung sayap. Menggunakan mesin tunggal Daimler-Benz DB 600 yang dipasang di tengah badan pesawat, dan drive shaft terhubung ke mesin baling-baling  yang normal memiliki diameter 4 meter, ketika untuk lepas landas baling-baling akan memiliki diameter 2 meter. Rencana awal pesawat akandilengkapi dengan roda landing gear yang dapat ditarik.

Desain WP Weserflug 1003
Untuk lepas landas, seluruh bagian luar dari sayap dapat diputar 90 derajat sehingga baling-baling diarahkan lurus ke atas sehingga mereka akan menciptakan gaya angkat yang akan meninggalkan pesawat dari tanah dengan cara yang mirip dengan helikopter. Setelah di baling-baling udara akan diputar untuk posisi horizontal dan akan mendorong pesawat ke depan.

Namun, pesawat itu tidak pernah dibangun karena kompleksitas sistem VTOL, meskipun desain yang sangat mirip kemudian dibangun oleh Amerika Serikat bernama Boeing V-22 Osprey , yang dimulai pengujian pada tahun 1989.

Focke-Wulf Ta 183, Inspirator Mig-15

Focke-Wulf Ta 183 Huckebein (Hunchback) adalah desain pesawat tempur bertenaga jet yang dimaksudkan sebagai penerus Me Messerschmitt 262 dan pesawat tempur Luftwaffe lainnya selama Perang Dunia II. Pesawat ini dikembangkan hanya sampai sebatas pengetesan model ketika perang berakhir, tetapi desain dasar dikembangkan lebih lanjut selama pasca-perang di Argentina sebagai FMA Pulqui II.

Pada awal tahun 1945, Reichsluftfahrtministerium (RLM) menyadari perkembangan jet Sekutu, dan lebih khawatir lagi bahwa mereka mungkin harus menghadapi serangan pesawat pembom Gloster Meteor. Sebagai tanggapan, mereka melembagakan Emergency Fighter Program dan mengakhiri produksi sebagian besar pesawat pembom dan pesawat multi-peran yang mendukung pesawat fighter, terutama jet tempur. Selain itu, mereka mempercepat pengembangan desain eksperimental yang akan menjamin keunggulan kinerja, desain ini yang nantinya akan menggantikan pesawat jet pertama Jerman (Messerschmitt Me 262 dan Heinkel He 162).

Hasilnya adalah serangkaian desain canggih, beberapa pesawat menggunakan sayap menyapu untuk meningkatkan kinerja transonik dan menggunakan desain ekor pendek berekor untuk tujuan yang sama. Semenjak insinyur pesawat Jerman sadar bahwa desain pesawat yang memiliki ekor dapat mengalami masalah stabilitas serius dalam transonik tersebut, berbagai metode stabilisasi dikembangkan. Desain tim Kurt Tank 's dipimpin oleh Hans Multhopp dirancang pada tahun 1945 desain pesawat tersebut kemudian dikenal sebagai "Huckebein", dan juga dikenal sebagai Project V (Proyek VI di beberapa referensi) atau Desain II di Focke-Wulf.

DESAIN
Pengembangan Ta 183 dimulai sejak tahun 1942 sebagai Proyek VI, ketika insinyur Hans Multhopp membentuk tim untuk merancang pesawat tempur baru, berdasarkan pemahamannya yang sebelumnya Focke-Wulf desain studi untuk pesawat tempur tidak memiliki kesempatan untuk mencapai hasil karena tidak memiliki potensi untuk memiliki kecepatan transonik. Pesawat ini direncanakan akan menggunakan mesin Heinkel HES 011 turbojet .

Persenjataan utama pesawat terdiri dari empat meriam 30 mm (1,18 di) MK 108. Pesawat ini memungkinkan juga untuk membawa beban bom seberat 500 kg (1.100 lb), terdiri dari satu 500 bom SD atau SC, satu BT 200 bom, lima SD atau SC bom atau kamera pengintai Rb 20/30. Senjata akan ditampung di ruang peralatan di bagian bawah badan pesawat.

Fw SuperLorin Modell kl3
Tim Multhopp juga serius mengeksplorasi versi kedua dari desain dasar, yang dikenal sebagai Desain III, dimodifikasi Desain II (aku tidak tahu apa namanya, mungkin Desain II ). Desain II  hanya dilakukan modifikasi kecil, dengan ujung sayap sedikit berbeda berbentuk dan reposisi dari mesin pendarat . Versi kedua memiliki sweepback berkurang sampai 32 °, memungkinkan sayap dan kokpit untuk dipindahkan ke belakang. Ekor juga didesain ulang, menggunakan mode  ekor pendek horisontal untuk me-mount kontrol permukaan tepat di atas garis belakang badan pesawat. Versi ini terlihat jauh lebih "konvensional" dengan cockpit modern, meskipun desain pesawat sedikit gemuk karena panjang pesawat keseluruhan terbilang lebih pendek dari HES 011.

Ilustrasi Pesawat Huckebein
kedua skema didaftarkan dalam kompetisi resmi yang diperintahkan oleh Oberkommando der Luftwaffe pada akhir 1944. Pada tanggal 28 Februari 1945, Komando Tinggi Luftwaffe memeriksa proposal berbagai pesawat fighter darurat dan memilih Junkers EF128 untuk dikembangkan dan diproduksi, tim Focke-Wulf mendapatkan tempat kedua. Namun, dalam beberapa minggu terakhir masa perang, diputuskan bahwa desain tim Focke-Wulf meupakan desain yang terbaik dan, pada pertemuan di Bad Eilsen , Tank diperintah untuk mengatur mock-up dan untuk merencanakan produksi penuh. Huckebein memiliki kecepatan yang direncanakan sekitar 1.000 km / jam (620 mph) pada ketinggian 7.000 m (22.970 kaki) dan diperkirakan bahwa 300 pesawat per bulan akan diproduksi, setiap pesawat akan diproduksi 2.500 orang perjam.

Sebanyak 16 prototipe itu harus dibangun, untuk menguji antara Desain II dan variasi III. Pesawat Versuchs (seri uji eksperimental), Ta 183 V1-V3 itu harus didukung oleh turbojet Jumo 004B, sambil menunggu pengiriman mesin jet 011 HES. Ta 183 V4-V14 merupakan pesawat pra-produksi dan V15-V16 digunakan untuk menjadi pesawat uji statis. Penerbangan pertama pesawat itu dilaksanakan pada Mei 1945, tetapi tidak pernah terwujud dengan disitanya fasilitas Focke-Wulf oleh pasukan Inggris pada 8 April 1945.

Karakteristik umum
Kru                             : Satu
Panjang                       : 9,20 m (30 ft 2 in)
Lebar sayap                : 10.00 m (32 ft 10 in)
Tinggi                          : (?)
Wing area                    : 22,5 m² (242 ft ²)
Berat kosong               : 2.380 kg (£ 5247)
Loaded weight             : 4.300 kg (£ 9480)
Powerplant                  : 1 × Heinkel HES 011 turbojet , 13 kN (2.700 lbf)
Kecepatan maksimum : 955 km / jam (593 mph)
Moyang dari                : MiG-15, MiG-17, F-86 Sabre

Persenjataan
4 × meriam 30 mm (1,18 di) MK 108
4 × Ruhrstahl X-4 AAMs atau bom 500 kg (£ 1102) 

Sumber : wikipedia.org